Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pesawat ATR IAT Hilang Kontak di Maros, Pencarian Difokuskan Pegunungan Bantimurung

Siti Rohmah • Minggu, 18 Januari 2026 | 12:02 WIB
Ilustrasi pesawat hilang kontak.
Ilustrasi pesawat hilang kontak.

RADARTUBAN - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, saat ini masih dalam tahap pencarian.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan area pencarian difokuskan di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros.

Lokasi tersebut sekaligus dijadikan posko Basarnas terdekat untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan.

“Pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan pada pukul 16.25 WITA,” ujar Lukman dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu.

Laporan awal terkait hilangnya kontak pesawat diterima Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Sabtu (17/1).

Pesawat jenis ATR 42-500 tersebut dioperasikan oleh Indonesia Air Transport, pemegang Air Operator Certificate (AOC) 034.

Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu sedang menjalankan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG), dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.

Lukman menjelaskan, berdasarkan kronologi terakhir, pada pukul 04.23 UTC pesawat mendapat arahan dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandara Sultan Hasanuddin.

Namun dalam proses pendekatan tersebut, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur yang seharusnya. ATC kemudian memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat agar kembali ke lintasan pendekatan yang sesuai dengan prosedur.

“ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan untuk membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan. Namun setelah arahan terakhir disampaikan, komunikasi dengan pesawat terputus,” ungkap Lukman.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

AirNav Indonesia Cabang MATSC langsung berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara untuk mendukung langkah pencarian dan pertolongan.

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar juga telah menyiapkan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi dan informasi.

Selain itu, AirNav Indonesia tengah mempersiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue).

“Jumlah orang di dalam pesawat dilaporkan sebanyak 10 orang, terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang,” kata Lukman.

Informasi awal mengenai kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian menunjukkan jarak pandang sekitar 8 kilometer, dengan kondisi cuaca dilaporkan sedikit berawan.

Namun, detail dan konfirmasi lebih lanjut masih menunggu koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi intensif melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar bersama AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI Angkatan Udara, serta instansi terkait lainnya.

“Koordinasi dilakukan untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan seluruh langkah penanganan berjalan secara optimal,” ujar Lukman.

Kementerian Perhubungan memastikan akan menyampaikan pembaruan informasi secara berkala sesuai dengan perkembangan resmi di lapangan.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sulawesi selatan #hilang kontak #maros #Indonesia #pesawat