Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Efek La Nina, Sambaran Petir di Indonesia Tembus 8,6 Juta Kali Sepanjang 2025

Ika Nur Jannah • Selasa, 20 Januari 2026 | 20:56 WIB
Ilustrasi sambaran petir.
Ilustrasi sambaran petir.

RADARTUBAN - Perubahan iklim global kian memperparah pola cuaca ekstrem di Indonesia, termasuk penyiaran sambaran petir yang mencapai jutaan kali setahun.

Fenomena ini terdeteksi paling signifikan di Nusa Tenggara Barat (NTB), di mana BMKG mencatat peningkatan drastis pada tahun 2024-2025.

Para ahli memperingatkan masyarakat untuk waspada, seiring intensitas La Nina yang memicu emisi gas rumah kaca.

Perubahan iklim mengubah kondisi atmosfer, memicu terbentuknya awan kumulonimbus lebih sering melalui hujan lebat hampir sepanjang tahun.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa peningkatan kelembapan akibat pemanasan global menjadi energi utama bagi aktivitas petir.

Saat El Nino menyebabkan musim kering lebih panjang, frekuensi petir justru menurun karena minimnya awan, namun La Nina kekeringan pola ini menjadi lebih ekstrem.

BMKG mencatat total 2 juta sambaran petir di NTB pada tahun 2024 dan 1,15 juta kali pada tahun 2025, dengan Kabupaten Sumbawa sebagai titik tertinggi mencapai 1 juta dan 705.145 kali.

Secara nasional, aktivitas petir nasional pada tahun 2025 menembus 8,6 juta kejadian, tertinggi di Mei dengan 1,236 juta sambaran. Petir antar-awan mendominasi, sering tak terlihat tapi terdeteksi radar BMKG.

BMKG memasang empat alat pemantau petir di NTB, termasuk di Stasiun Geofisika Mataram, Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Bandungbawa, dan Bima.

Masyarakat diimbau menghindari luar ruangan saat awan gelap tebal, karena risiko sambaran meningkat signifikan. Model iklim global juga memperkirakan peningkatan petir di kawasan tropis seperti Indonesia dalam dekade mendatang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#petir #BMKG #iklim #Indonesia