Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rupiah Nyaris Rp 17.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Optimistis Nilai Tukar Segera Menguat

Siti Rohmah • Selasa, 20 Januari 2026 | 12:35 WIB

 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta

RADARTUBAN - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat meski sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan Senin (19/1), rupiah tercatat berada di posisi Rp16.955 per dolar AS.

Ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar sangat ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi suatu negara.

Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang solid dan resilien.

Salah satu indikator yang menunjukkan kekuatan tersebut, menurut Purbaya, adalah kinerja pasar saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH) pada posisi 9.133,87.

“IHSG sudah mencetak rekor tertinggi. Kalau indeks naik seperti itu, pasti ada aliran dana asing yang masuk. Tidak mungkin pergerakan sebesar itu hanya didorong oleh investor domestik. Artinya, suplai dolar akan bertambah, dan tinggal menunggu waktu rupiah menguat kembali,” ujar Purbaya.

Ia juga membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh isu penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Menurutnya, spekulasi tersebut muncul dari kekhawatiran sebagian pihak bahwa independensi bank sentral akan terganggu jika diisi oleh mantan pejabat pemerintah.

Purbaya menegaskan bahwa kekhawatiran itu tidak berdasar. Ia memastikan kehadiran wakil menteri keuangan di BI tidak akan mengganggu independensi lembaga moneter tersebut.

“Ada anggapan bahwa ketika Pak Thomas masuk, independensi BI akan hilang. Saya kira tidak akan seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, bendahara negara menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas dan memperkuat fundamental ekonomi, termasuk dengan mendorong percepatan pertumbuhan, agar nilai tukar rupiah dapat segera kembali menguat.

Pada perdagangan Senin di Jakarta, rupiah tercatat melemah 68 poin atau sekitar 0,40 persen menjadi Rp 16.955 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.887 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya rencana Presiden AS Donald Trump yang mengancam penerapan tarif 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang menolak rencana Washington untuk mengakuisisi Greenland.

Selain itu, pelemahan rupiah juga didorong oleh ketidakpastian pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama mengenai kemungkinan Federal Reserve hanya akan memangkas suku bunga kurang dari dua kali sepanjang tahun ini.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#menteri keuangan #Purbaya Yudhi Sadewa #dolar amerika serikat #indeks harga saham gabungan #ATH #Amerika Serikat #ihsg #nilai tukar rupiah