RADARTUBAN - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) gencar menangani 23 muara sungai yang rusak akibat bencana banjir bandang di Sumatera, dengan mengandalkan kapal keruk sebagai solusi utama.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pendekatan krusial ini untuk memulihkan aliran sungai dan mencegah banjir susulan.
Sebagian besar muara terdampak, terutama di sungai besar, memerlukan kapal keruk karena ekskavator biasa tidak cukup efektif membersihkan sedimen tebal.
Hanya satu hingga tiga lokasi, seperti Krueng Meureudu, yang dapat ditangani tanpa alat berat khusus ini.
Di Sumatera Utara, 11 muara sungai terdampak dengan delapan penanganan sudah direncanakan dan tiga masih menunggu.
Aceh mencatat delapan muara rusak, satu sedang diproses, dua dalam rencana, serta lima belum tercapai.
Sementara Sumatera Barat punya empat muara masalah, tiga sudah terselesaikan dan satu dalam tahap perencanaan.
Prioritas Rehabilitasi Jangka Panjang
Penggunaan kapal keruk dirancang agar material matang kerukan dimanfaatkan sebagai timbunan tanggul kuat, bukan sekadar dibuang.
Dody menekankan proses ini bagian dari rehabilitasi penuh, bukan tanggap darurat belaka, untuk menghadapi musim hujan berikutnya. Saat ini, PU juga mempercepat penguatan tanggul kota dan normalisasi sungai kecil. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni