RADARTUBAN - FOMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan takut ketinggalan momen, informasi, atau kesempatan yang dialami banyak orang di era digital.
Jika dulu FOMO lebih banyak dialami remaja, kini fenomena ini justru semakin terasa di usia dewasa.
Ironisnya, meski tubuh dan pikiran sudah lelah dengan rutinitas, rasa takut ketinggalan tetap mendorong kita untuk terus aktif, seolah tidak boleh berhenti.
Baca Juga: Selain FOMO, Mari Mengenal FOBO: Musuh Baru dalam Pengambilan Keputusan
Mengapa FOMO Muncul di Usia Dewasa?
Ada beberapa alasan mengapa FOMO justru semakin kuat ketika kita dewasa:
Tekanan sosial: di usia dewasa, ada ekspektasi untuk sukses, menikah, punya rumah, atau stabil secara finansial. Melihat pencapaian orang lain bisa memicu rasa takut tertinggal.
Media sosial: update teman tentang karier, liburan, atau pencapaian membuat kita merasa harus ikut serta.
Kesempatan terbatas: semakin dewasa, kita sadar bahwa waktu tidak bisa diulang. Setiap peluang terasa berharga, sehingga muncul rasa takut melewatkan.
Kebutuhan validasi: meski sudah dewasa, banyak orang masih mencari pengakuan dari lingkungan sosial.
Padahal Lagi Capek
Masalahnya, FOMO sering muncul justru ketika kita sedang lelah. Setelah bekerja seharian, tubuh butuh istirahat, tetapi pikiran terus mendorong untuk tetap aktif: ikut acara, scroll media sosial, atau mengejar tren terbaru. Akibatnya, bukannya merasa puas, kita justru semakin capek secara fisik dan mental.
Fenomena ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar rasa ingin tahu, tetapi juga bentuk tekanan psikologis yang bisa mengganggu keseimbangan hidup.
Dampak FOMO di Usia Dewasa
Jika tidak dikendalikan, FOMO bisa membawa dampak negatif:
Stres berlebihan: merasa tertinggal membuat pikiran terus gelisah.
Kehilangan fokus: terlalu banyak mengejar hal baru membuat kita sulit konsisten.
Kualitas hidup menurun: waktu istirahat berkurang, produktivitas menurun.
Insecure: membandingkan diri dengan orang lain membuat rasa percaya diri melemah.
Baca Juga: Lawan FOMO dengan JOMO! Tips Hidup Tenang dan Bahagia Tanpa Ikut-ikutan Tren Sosial Media
Cara Mengatasi FOMO
Mengatasi FOMO bukan berarti menutup diri dari dunia luar, tetapi belajar mengendalikan diri. Beberapa langkah realistis:
Kenali batas energi: sadar bahwa tubuh butuh istirahat, tidak semua hal harus diikuti.
Tetapkan prioritas: pilih kegiatan yang benar-benar penting, bukan sekadar ikut-ikutan.
Kurangi media sosial: batasi waktu scroll agar tidak terus membandingkan diri.
Latih mindfulness: fokus pada momen sekarang, bukan pada apa yang orang lain lakukan.
Syukuri pencapaian diri: ingat bahwa setiap orang punya jalan hidup berbeda.
FOMO di usia dewasa muncul karena tekanan sosial, media sosial, dan rasa takut melewatkan kesempatan.
Namun, sering kali rasa itu datang ketika kita sedang capek, sehingga justru memperburuk kondisi mental dan fisik.
Pada akhirnya, dewasa berarti berani memilih untuk tidak selalu ikut serta. Tidak semua hal harus diikuti, dan istirahat juga bagian penting dari perjalanan hidup. Dengan mengendalikan FOMO, kita bisa lebih fokus, sehat, dan bahagia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni