RADARTUBAN - Dinas Pendidikan DKI Jakarta kini memperketat aturan penggunaan gawai atau HP di sekolah. Kebijakan baru diumumkan Senin (19/1).
Siswa diingatkan untuk berhati-hati saat menggunakan ponsel mereka agar mereka dapat tetap fokus pada pelajaran.
Aturan ini dijelaskan dalam Surat Edaran (SE) Nomor e-0001/SE/2026 tentang Pemanfaatan Gawai dengan Bijak di Lingkungan Institusi Pendidikan.
Langkah ini dilakukan agar siswa dapat fokus pada pelajaran mereka sambil tidak terganggu oleh perangkat elektronik.
Tujuan utamanya adalah untuk melindungi kesehatan mental siswa Jakarta dan memastikan kondisi mental yang optimal.
Aturan yang membatasi penggunaan HP berlaku di semua jenjang pendidikan, kata Nahdiana, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Nahdiana menjelaskan, aturan pembatasan HP ini tetap memberi ruang untuk pengecualian.
Dalam kondisi tertentu yang memang mendukung proses belajar, penggunaan gawai masih diperbolehkan di tempat yang sudah ditentukan sekolah.
Aturan ini mewajibkan semua jenis gawai mulai dari smartphone, smartwatch, hingga laptop untuk dimatikan atau diubah ke mode hening, lalu disimpan di tempat khusus yang sudah disediakan sekolah.
Supaya aturan ini benar-benar berjalan efektif, Disdik DKI Jakarta sudah menyiapkan mekanisme teknis yang wajib dipatuhi oleh sekolah dan para siswa.
Penyimpanan Gawai: Semua perangkat elektronik, seperti HP, ponsel pintar, atau laptop, harus dikumpulkan dan disimpan di lokasi aman yang sudah disediakan oleh sekolah selama jam pelajaran.
Akses Komunikasi Darurat: Sekolah menyediakan narahubung seperti guru BK atau wali kelas untuk komunikasi darurat antara orang tua dan siswa. Orang tua tidak perlu khawatir.
Fasilitas Pembelajaran: Sekolah tetap menyiapkan sarana digital sebagai alternatif jika ada materi pelajaran yang membutuhkan dukungan teknologi.
Peran Penting Orang Tua di Rumah
Nahdiana menekankan bahwa sekolah memiliki keterbatasan waktu dalam mengawasi siswa. Karena itu, peran orang tua di rumah sangat penting untuk memastikan kebijakan ini berjalan dengan baik.
Dia mengingatkan bahwa anak hanya menghabiskan beberapa jam saja di lingkungan sekolah setiap harinya.
Dia menyarankan agar orang tua membuat kesepakatan dengan anak mengenai lama penggunaan HP di rumah, sehingga terbentuk kebiasaan positif yang bisa terus berlanjut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni