RADARTUBAN - BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat Masih Tinggi di Jabodetabek Selama Sepekan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang besar terjadi di sebagian besar wilayah Jabodetabek dalam sepekan ke depan.
Prakirawan Cuaca BMKG, Jatmiko, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia yang disertai dengan seruakan udara dingin atau cold surge dari daratan Asia.
Fenomena ini memicu terbentuknya daerah konvergensi angin di wilayah Jawa, yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
“Penguatan Monsun Asia dan adanya cold surge dari Asia daratan meningkatkan pembentukan awan hujan yang lebih intens dan meluas, termasuk di Jabodetabek,” ujar Jatmiko saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Tim meteorologi BMKG menilai dinamika atmosfer tersebut menjadi penyebab utama hujan dengan durasi panjang yang terjadi di Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
“Dalam sepekan ke depan, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi di sebagian besar wilayah Jabodetabek,” katanya.
Jatmiko menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan, wilayah Jabodetabek dalam 10 hari terakhir telah mengalami hujan dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari ringan hingga ekstrem.
Curah hujan tertinggi tercatat pada 18 Januari 2026 dengan intensitas mencapai 267 milimeter per hari.
Sementara itu, pada hari ini hingga pukul 15.00 WIB, curah hujan tercatat sekitar 189 milimeter per hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan.
Seperti genangan air, banjir, serta gangguan aktivitas sehari-hari, khususnya di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi.
Selain Jabodetabek, BMKG juga memprakirakan potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan.
Daerah yang perlu mewaspadai kondisi tersebut antara lain Sumatera bagian selatan, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Dengan dinamika atmosfer yang berlangsung saat ini, potensi cuaca ekstrem juga berpeluang terjadi di wilayah-wilayah tersebut,” ujar Jatmiko.(*)
Editor : Yudha Satria Aditama