Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jumlah Kunjungan Pasien Gangguan Jiwa di Tuban 8.980 Orang Setahun, Dipicu Tekanan Keluarga hingga Dinamika Sosial

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 26 Januari 2026 | 07:10 WIB
Jumlah ODGJ di Tuban tembus 2.111 jiwa, Pemkab siapkan rencana pendirian RSJ agar layanan rawat inap tersedia di daerah.
Jumlah ODGJ di Tuban tembus 2.111 jiwa, Pemkab siapkan rencana pendirian RSJ agar layanan rawat inap tersedia di daerah.

RADARTUBAN – Sepanjang 2025, jumlah kunjungan ke Klinik Psikiatri RSUD dr R. Koesma Tuban mencapai 8.980 orang.

Angka ini setidaknya menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr R. Koesma Tuban dr Erwin Era Prasetya menjelaskan, gangguan mental secara umum terbagi menjadi dua kelompok besar.

Pertama, neurosa atau gangguan kecemasan sebagai tahap awal. Kedua, psikosa yang merupakan gangguan kejiwaan berat, seperti skizofrenia.

“Orang-orang saat ini juga sudah mulai menyadari, ketika mereka mulai mengalami kecemasan atau merasa tertekan, mereka langsung berinisiatif untuk periksa dan melakukan konsultasi kepada dokter jiwa. Jadi sudah tidak takut lagi," tegas Erwin.

Menurut dia, pasien klinik psikiatri kini berasal dari berbagai kelompok usia dan gender.

Tekanan keluarga, pekerjaan, beban akademik, hingga dinamika sosial yang semakin kompleks menjadi faktor pemicu gangguan mental.

Tidak hanya orang dewasa, sekitar 2–5 persen pasien klinik psikiatri juga merupakan anak-anak.

Mereka datang dengan berbagai diagnosis, mulai dari autisme hingga attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) yang memerlukan terapi dan perawatan khusus.

Dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu menilai angka 8.980 pasien belum tentu menggambarkan keseluruhan kasus gangguan mental di Kabupaten Tuban.

Sebab, sebagian pasien juga berobat ke dokter jiwa di rumah sakit lain di Bumi Ronggolawe.

Erwin menambahkan, meningkatnya jumlah pasien juga dipengaruhi oleh generasi muda yang lebih terbuka dalam menyuarakan pentingnya kesehatan mental melalui media sosial.

Mereka menyadari gangguan mental yang tidak tertangani dapat berdampak pada kondisi fisik. “Mereka sudah memiliki kesadaran di dalam dirinya sendiri terkait persoalan kesehatan mental tersebut,” kata dia.

Jika tidak segera ditangani, gangguan mental dapat memicu keluhan fisik, seperti pusing, sulit tidur, naiknya asam lambung, serta menurunnya produktivitas.

Meski secara statistik terlihat besar, Erwin memandang angka kunjungan ini sebagai indikator positif. Masyarakat dinilai lebih waspada dan terbuka untuk berkonsultasi sebelum gangguan mental berkembang menjadi kronis.

“Berobat ke klinik jiwa itu tidak ada salahnya. Karena, jika sudah mengalami nerosa lalu dibiarkan terus menerus, dapat berakhir menjadi psikosa,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pada tahap psikosa, proses penyembuhan jauh lebih sulit dan sering kali membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mencegah kekambuhan. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #adhd #skizofrenia #masyarakat #RSUD dr R Koesma #mental #gangguan jiwa