Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Emas Cetak Rekor Tembus 5 Ribu Dolar AS per Ons, Analis Ungkap Potensi Meledak hingga 10 Ribu Dolar

M Robit Bilhaq • Selasa, 27 Januari 2026 | 17:10 WIB

 

Ilustrasi Grafik Kenaikan Emas
Ilustrasi Grafik Kenaikan Emas

RADARTUBAN - Nilai komoditas emas di pasar internasional saat ini telah mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah setelah melampaui angka 5.000 Dolar AS atau setara dengan Rp84,9 juta untuk setiap onsnya.

Lonjakan signifikan tersebut menjadi gambaran betapa besarnya minat para pemodal untuk mengamankan kekayaan mereka pada aset safe haven di kala situasi geopolitik dunia sedang mengalami ketegangan yang hebat.

Berdasarkan data aktivitas pasar pada hari Senin (26/1), nilai emas di pasar spot mengalami apresiasi sebesar 0,94 persen sehingga posisinya berada di 5.029,62 Dolar AS per ons.

Selaras dengan itu, instrumen kontrak berjangka emas di Amerika Serikat yang dijadwalkan untuk pengiriman bulan Februari juga mengalami penguatan sebesar 1,02 persen ke level 5.029,70 Dolar AS per ons.

Laporan dari Reuters, Ross Norman yang merupakan seorang analis independen memberikan proyeksi bahwa sepanjang tahun 2026 pergerakan harga emas berpotensi terus merangkak naik hingga menyentuh angka 6.400 Dolar AS, dengan estimasi nilai rata-rata berada di kisaran 5.375 Dolar AS per ons.

Di sisi lain, Saxo Bank melalui laporan bertajuk Outrageous Predictions 2026 memaparkan sebuah analisis mengenai kemungkinan risiko yang sangat luar biasa yang dapat memicu lonjakan harga emas jauh lebih tinggi lagi.

Salah satu prediksi ekstrem mereka adalah fenomena Q-Day, yaitu sebuah masa di mana kemajuan teknologi komputasi kuantum diprediksi sanggup membobol berbagai sistem keamanan enkripsi digital.

Jika situasi tersebut terjadi, keyakinan publik terhadap perbankan konvensional maupun aset-aset digital dikhawatirkan akan goyah, sehingga emas diperkirakan mampu melonjak hingga mencapai 10.000 Dolar AS per ons sebagai aset fisik yang bebas dari ancaman kegagalan sistem digital.

Penyebab utama dari rentetan rekor harga ini adalah memanasnya relasi internasional yang menimbulkan kegelisahan di pasar global.

Friksi yang terjadi antara Amerika Serikat, NATO, beserta para sekutunya mengenai berbagai isu strategis, ditambah dengan ketidakpastian arah kebijakan niaga internasional, semakin memperkokoh posisi emas sebagai instrumen pelindung nilai.

Selain itu, faktor geopolitik lain yang menjadi sorotan adalah proses negosiasi antara pihak Rusia dan Ukraina di Abu Dhabi yang telah berlangsung selama dua hari namun belum membuahkan hasil yang konkret.

Meskipun pembicaraan tersebut akan diteruskan pada akhir pekan mendatang, serangan militer oleh Rusia baru-baru ini telah berdampak pada terputusnya aliran listrik bagi jutaan penduduk Ukraina di tengah cuaca dingin yang sangat ekstrem.

Situasi diperparah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan gertakan untuk menetapkan tarif masuk sebesar 100 persen bagi barang-barang asal Kanada jika negara tersebut menjalin kerja sama perdagangan dengan China, yang kian menambah keraguan bagi para pelaku pasar.

Ahli strategi emas untuk kawasan Asia Pasifik di State Street Investment Management, Robin Tsui, berpendapat sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, bahwa tren penguatan emas saat ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya.

Jika dulu kenaikan lebih banyak dipicu oleh harapan akan turunnya suku bunga, maka lonjakan saat ini murni disebabkan oleh tingginya risiko ketidakpastian global.

Robin mengamati adanya aliran dana strategis yang sangat besar masuk ke sektor emas.

karena sejak dahulu logam mulia telah terbukti efektif menjadi pelindung terhadap pelemahan nilai mata uang serta risiko penurunan nilai aset lainnya.

Kenaikan yang terjadi juga merembet ke logam berharga lainnya, di mana perak spot melonjak 1,85 persen hingga mencapai harga 104,85 Dolar AS per ons.

Sementara itu, paladium mencatatkan kenaikan tipis 0,22 persen, sedangkan platinum justru terkoreksi sedikit sebesar 0,21 persen.

Kesimpulan dari pengamatan ahli ekonomi menyatakan bahwa kombinasi dari memanasnya tensi dunia, kebijakan keuangan yang longgar di Amerika Serikat.

Aksi borong emas oleh bank sentral termasuk dari pihak China, serta derasnya modal yang masuk ke dana kelolaan bursa (ETF) menjadi bahan bakar utama bagi terus berlanjutnya kenaikan harga emas ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#emas #ekonomi #dolar #geopolitik #harga emas