RADARTUBAN – Indonesia mulai mengganti cara pandang dalam industri teknologi.
Pemerintah tak lagi puas hanya menjadi basis perakitan produk digital global.
Targetnya kini lebih tinggi: masuk ke industri semikonduktor bernilai tambah, sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi digital dunia.
Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah menyiapkan langkah bertahap namun terukur agar Indonesia tidak terus berada di hilir industri teknologi.
Baca Juga: Taiwan Gelontorkan Investasi Ratusan Miliar Dolar untuk Bangun Industri Chip di AS
Masuk Rantai Pasok Global, Bukan Langsung Lompat Jauh
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai pendekatan paling realistis saat ini adalah mengambil posisi di rantai pasok global semikonduktor.
Bukan langsung membangun industri chip dari nol, melainkan menancapkan peran di komponen strategis.
"Kita masuk dulu ke rantai pasokan global. Di komponen yang strategis, kita harus ada. Dari situ daya tawar Indonesia akan tumbuh," ujar Wamen Nezar Patria dilansir dari JawaPos.com.
Langkah ini dipandang sebagai fondasi penting untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah peta industri global yang semakin kompetitif.
Pasir Silika dan Momentum Krisis Chip Dunia
Indonesia dinilai tidak berangkat dari titik nol. Salah satu modal utamanya adalah ketersediaan pasir silika yang melimpah, bahan baku utama pembuatan silicon wafer, komponen krusial dalam industri semikonduktor.
Nezar menegaskan, lonjakan industri kecerdasan buatan (AI) secara global telah memicu permintaan besar terhadap silicon wafer.
Kelangkaan chip yang terjadi di banyak negara justru membuka peluang baru.
"Permintaan silicon wafer sangat tinggi karena industri AI berkembang pesat. Ini momentum yang jarang dan harus dimanfaatkan," katanya.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pintu masuk untuk naik kelas—dari pemasok bahan mentah menuju bagian dari industri strategis dunia.
Baca Juga: Diam-diam TSMC Mulai Produksi Massal Chip 2nm, Performa Naik tapi Biaya Produksi Melonjak Tajam
Keuntungan Geopolitik dan Kunci Transfer Teknologi
Tak hanya soal sumber daya alam, posisi geopolitik Indonesia yang relatif netral juga menjadi nilai tambah.
Pemerintah melihat peluang besar untuk bekerja sama dengan berbagai negara tanpa terjebak blok geopolitik tertentu.
Namun, Nezar menekankan bahwa tujuan utama bukan sekadar membuka lapangan kerja jangka pendek.
"Yang kita kejar itu transfer teknologi. Kalau hanya tenaga kerja, dampak jangka panjangnya kecil," tegas Wamen Nezar.
Alih teknologi dipandang sebagai kunci agar Indonesia tidak terus bergantung, tetapi mampu membangun kapabilitas industrinya sendiri.
TKDN Jadi Pengungkit Ekosistem Industri
Sebagai penguat langkah strategis tersebut, Kemkomdigi juga mendorong kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Produk seperti ponsel, komputer genggam, dan tablet diwajibkan memenuhi TKDN minimal 35 persen.
Menurut Nezar, kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan pemantik tumbuhnya rantai pasok industri nasional. Ketika kebutuhan komponen lokal meningkat, kapasitas produksi dalam negeri akan terdorong naik.
Target Besar: Naik Kelas, Bukan Sekadar Ikut Arus
Melalui kombinasi kebijakan, sumber daya alam, dan momentum global, pemerintah menargetkan transformasi besar. Indonesia ingin keluar dari stigma “tukang rakit” dan mulai mengambil peran nyata dalam industri teknologi strategis dunia.
Jika langkah ini konsisten, industri semikonduktor bukan hanya akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru, tetapi juga jalan bagi Indonesia untuk berdiri sejajar di panggung teknologi global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni