RADARTUBAN – Kolaborasi lintas negara antara perguruan tinggi dan dunia industri kembali mendapat energi baru.
Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional, puluhan perguruan tinggi Indonesia bersama mitra industri Malaysia duduk satu meja untuk merancang langkah konkret kerja sama ke depan.
FGD Jadi Momentum Penguatan Jejaring Internasional
Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan perwakilan dari 56 perguruan tinggi se-Indonesia bersama mitra industri Malaysia.
Forum ini digelar di Pudu Convention Hall, Kuala Lumpur, pada Sabtu (24/1).
Suasana diskusi berlangsung dinamis dan penuh semangat, mencerminkan komitmen bersama untuk memperluas jejaring global serta membuka peluang kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan pelaku industri lintas negara.
Dorongan Sinergi Nyata Kampus dan Industri
FGD dipandu langsung oleh Prof. Usep Suhud, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta.
Dalam paparannya, Prof. Usep menekankan bahwa kolaborasi internasional tidak boleh berhenti pada tataran wacana.
“Kolaborasi lintas negara seperti ini penting agar perguruan tinggi mampu merespons kebutuhan riil industri dan tantangan global,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi konkret antara kampus dan dunia usaha menjadi kunci agar lulusan perguruan tinggi memiliki relevansi dan daya saing di tingkat internasional.
Industri Fesyen Muslimah Tekankan Nilai dan Keberlanjutan
Dari sisi industri, perwakilan Siti Khadijah Apparel, Komaruddin, menegaskan pentingnya nilai dalam pengembangan industri fesyen muslimah.
Ia menyampaikan bahwa industri ini tidak sekadar berorientasi pada produk dan tren semata.
“Industri fesyen muslimah harus bertumpu pada kenyamanan beribadah, kualitas terbaik, serta identitas syariat yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, dengan fondasi tersebut, busana muslimah tidak hanya bernilai komersial, tetapi juga memiliki makna spiritual dan keberlanjutan jangka panjang.
PkM Internasional Fokus Pemberdayaan Pekerja Migran
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional yang digelar pada Minggu (25/1). Program ini secara khusus berfokus pada pemberdayaan pekerja migran Indonesia di Malaysia.
Ketua STIM Lasharan Jaya Makassar, Associate Professor Dr. Hernita, menyebut FGD dan PkM internasional ini sebagai momentum strategis yang menjembatani praktik industri lintas negara dengan dunia akademik.
“Kami berharap para pekerja migran memiliki kesiapan mental, keterampilan, dan rencana usaha yang matang melalui PkM internasional ini. Dengan bekal tersebut, mereka dapat tumbuh sebagai pelaku ekonomi yang produktif dan berdaya saing,” ujarnya.
Pengabdian Tanpa Batas Geografis
Dr. Hernita menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas geografis.
Menurutnya, komitmen perguruan tinggi dalam pengabdian harus disertai pendampingan jangka panjang agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang didampingi.
Kolaborasi internasional ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan peran perguruan tinggi Indonesia dalam jejaring global, sekaligus memberi dampak nyata bagi dunia industri dan masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni