RADARTUBAN – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Kamis (29/1).
Letusan kali ini menyemburkan abu setinggi sekitar 700 meter dari puncak, disertai guguran material vulkanik yang meluncur hampir sejauh satu kilometer.
Guguran Material Capai Hampir 1 Kilometer
Letusan tersebut berpotensi memicu awan panas guguran yang berbahaya bagi kawasan di sekitar lereng.
Material vulkanik terpantau meluncur cukup jauh, sehingga warga di zona rawan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Aktivitas Erupsi Terjadi Beruntun
Sebelumnya, pada Rabu (28/1), Gunung Semeru juga sempat mengalami erupsi dengan skala lebih kecil. Saat itu, material vulkanik meluncur sejauh sekitar 500 meter dari puncak.
Meski tidak sebesar letusan terbaru, aktivitas tersebut menandakan bahwa gunung tertinggi di Pulau Jawa ini masih aktif.
BPBD Ingatkan Potensi Awan Panas Guguran
Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa kondisi Gunung Semeru saat ini masih tergolong labil.
Jika aktivitas erupsi terus berlanjut, kemungkinan munculnya awan panas guguran tetap terbuka.
“Kami terus memantau aktivitas gunung setiap jam, setiap hari, karena masih ada kemungkinan munculnya awan panas guguran,” ujar seorang petugas.
Status Gunung Raung Masih Waspada
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM masih menetapkan status Gunung Raung pada Level II atau Waspada.
Gunung yang berada di perbatasan Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso tersebut terus dipantau secara intensif karena aktivitas vulkaniknya belum menunjukkan penurunan signifikan sejak status dinaikkan pada Desember 2023.
Jalur Pendakian Gunung Raung Ditutup Sementara
Sebagai langkah antisipasi, Sekretariat Pendakian Gunung Raung resmi mengumumkan penutupan jalur pendakian mulai 3 hingga 24 Maret 2026. Penutupan ini berlangsung selama 21 hari.
Pemulihan Alam dan Antisipasi Ramadan
Selain demi keselamatan, masa penutupan dimanfaatkan untuk pemulihan ekosistem di kawasan Gunung Raung. Langkah ini bertujuan menjaga kelestarian alam agar jalur pendakian kembali aman saat dibuka.
“Penutupan menjelang Ramadan sudah menjadi rutinitas, tujuannya untuk mengurangi tekanan aktivitas manusia di kawasan gunung,” jelas Dimas.
Ia menambahkan bahwa para penyedia jasa pendakian telah mengantisipasi kebijakan tersebut sejak awal dan tidak membuka jadwal pendakian pada periode penutupan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni