RADARTUBAN- Ketika dia membacakan kisah pilu seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), pendongeng Awwam Prakoso tak kuasa menahan air mata.
Anak itu memutuskan untuk mati karena kemiskinan terus berlanjut.
Dalam video yang diunggahnya, Awam Prakoso tampak begitu gelisah.
Awam dengan suara bergetar berkata, "Negara kita ini sesungguhnya begitu kaya."
Jika benar bahwa masalah kemiskinan dan pendidikan harus diselesaikan segera, mengapa terasa begitu sulit untuk mencapainya?Bukankah tidak adil bagi anak-anak untuk menanggung beban sebesar ini dengan kekayaan kita?
Baca Juga: TPG Guru Sertifikasi 2025 Tak Cair, Tokoh Pendidikan Tuban Gus Riza Soroti Prioritas Pemerintah
Seruan untuk Tidak Membiarkan Luka Terus Sunyi
“Marilah kita bersama-sama mengangkat kisah ini, karena ada luka yang terlalu sunyi jika terus dibiarkan,” tulis Awam dengan sedih.
Di balik cerita ini tersimpan kesedihan yang sangat dalam—kisah tentang kemiskinan yang masih belum terselesaikan.
Pesan Tegas dan Penuh Empati kepada Para Pengambil Kebijakan
Awam berbicara dengan tegas tetapi penuh kasih sayang kepada para pejabat dan pengambil keputusan.
Ia mengingatkan bahwa jabatan adalah tanggung jawab besar untuk menyelamatkan kehidupan, bukan hanya posisi kekuasaan.
Mereka diminta untuk bekerja dengan tulus demi keselamatan banyak nyawa yang bergantung pada kebijakan negara.
Harapan pada Kebijakan yang Berpihak pada Rakyat Kecil
“Wahai bapak-ibu yang kini memegang amanah di kursi kekuasaan,” ucap Awam dengan penuh harap.
“Sesungguhnya tugas ini tidaklah berat bila dijalankan dengan niat tulus dari hati yang bersih. Satu kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil saja sudah cukup untuk menyelamatkan begitu banyak kehidupan.”
Respons Warganet: Tragedi yang Jadi Panggilan Bertindak
Unggahan Awam Prakoso segera mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak yang menuliskan rasa duka mendalam, seolah ikut merasakan kepedihan yang ia suarakan.
Tak sedikit pula yang memberikan dukungan, menyerukan agar pemerintah benar-benar serius menangani persoalan kemiskinan dan kesenjangan pendidikan.
Baca Juga: TKA SMP Tuban Hampir 100 Persen, Hanya 17 Siswa Belum Mendaftar karena Alasan Ini
Bagi mereka, tragedi di NTT bukan sekadar cerita pilu, melainkan panggilan untuk bertindak demi anak-anak di daerah tertinggal yang masih berjuang mendapatkan haknya.
Kronologi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur
Suasana duka menyelimuti Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Warga terhenyak oleh kabar pilu tentang seorang anak kelas IV sekolah dasar, YBS, yang baru berusia 10 tahun.
Ia ditemukan tak bernyawa di bawah pohon cengkeh, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Baca Juga: 10 Sekolah Terbaik Nasional Versi TKA, Jakarta Masih Mendominasi
Permintaan Sederhana yang Tak Terpenuhi
Permintaan yang begitu sederhana adalah sumber peristiwa tragis ini. Sehari sebelum tragedi, YBS, seorang siswa kelas IV sekolah dasar, hanya ingin dibelikan buku tulis dan pensil agar dia bisa tetap belajar seperti teman-temannya. Namun, keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak mampu memenuhi permintaan kecil itu.
Sosok YBS di Mata Lingkungan Sekitar
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengenang YBS sebagai sosok anak yang pendiam, sopan, dan tekun belajar.
Di mata orang-orang sekitarnya, ia adalah anak yang patuh dan penuh kesungguhan. Meski hidup dalam keterbatasan, YBS tak pernah memperlihatkan tanda-tanda memendam beban berat.
Kehilangan Sejak Lahir dan Hidup Bersama Nenek
Sejak lahir, YBS sudah harus menanggung kehilangan besar. Ayahnya meninggal sebelum ia memiliki kesempatan untuk melihat dunia.
Kehidupan kecilnya kemudian dijalani bersama sang nenek, yang sudah berusia sekitar 80 tahun dan masih berusaha memberikan kasih sayang di tengah keterbatasannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni