RADARTUBAN- Saat langit kembali pada 17 Februari 2026, akan ada pemandangan alam yang menakjubkan.
Fenomena ini disebut gerhana matahari cincin, atau ring of fire, karena bentuknya menyerupai cincin yang bersinar di langit.
Para ilmuwan telah lama memprediksi siklus astronomi melalui perhitungan orbit bulan, bulan, dan matahari. Ini karena orbit bulan sebenarnya adalah elips, bukan lingkaran sempurna.
Orbit Bulan Menjadi Penentu Bentuk Gerhana
Akibatnya, jarak bulan dengan bumi terus berubah-ubah. Saat bulan berada paling dekat dengan bumi—disebut perigee—bulan tampak lebih besar, sehingga bisa menutupi matahari sepenuhnya dan menghasilkan gerhana total.
Baca Juga: Gerhana Matahari Parsial 21 September 2025, Tidak Terlihat di Indonesia
Sebaliknya, ketika bulan berada di titik terjauh—apogee—ukuran bulan terlihat lebih kecil.
Inilah yang membuat matahari tampak seperti dikelilingi cincin cahaya, yang kita kenal sebagai gerhana cincin atau annular eclipse.
Fase Bulan Baru dan Syarat Terjadinya Gerhana
Gerhana matahari hanya bisa terjadi saat bulan berada pada fase bulan baru.
Pada saat itu, bulan berada tepat di antara bumi dan matahari, sehingga bayangannya jatuh ke bumi dan menutupi sebagian atau bahkan seluruh cahaya matahari.
Sangat menarik bahwa gerhana matahari ternyata punya banyak jenis. Penasaran dengan apa saja? Yuk, kita bahas satu per satu!
Empat Jenis Gerhana Matahari
-
Gerhana Matahari Total (Total Solar Eclipse)
Bulan menutupi matahari sepenuhnya, langit menjadi gelap, dan korona matahari terlihat. -
Gerhana Matahari Cincin (Annular Solar Eclipse)
Bulan lebih jauh dari bumi, tampak lebih kecil, sehingga menyisakan cincin cahaya di tepi matahari. -
Gerhana Matahari Sebagian (Partial Solar Eclipse)
Bulan hanya menutupi sebagian matahari, terlihat seperti sabit. -
Gerhana Matahari Hibrida (Hybrid Solar Eclipse)
Gerhana berubah dari total menjadi cincin (atau sebaliknya) karena kelengkungan bumi.
Lebih dari Sekadar Fenomena Langit
Gerhana matahari cincin bukan hanya sekadar tontonan indah di langit. Ia juga memberi kita wawasan tentang bagaimana bumi dan bulan bergerak dalam orbitnya, serta bagaimana posisi bulan bisa mengubah wajah gerhana yang kita lihat dari bumi.
Lebih dari itu, fenomena ini seakan menjadi pengingat bahwa alam semesta bekerja dengan presisi luar biasa—seperti sebuah panggung raksasa yang menghadirkan pertunjukan langit menakjubkan bagi siapa saja yang beruntung berada di jalurnya.
Indonesia Tak Masuk Jalur Gerhana
Meskipun Indonesia tidak berada di jalur gerhana, pengalaman menyaksikan fenomena langit ini masih dapat dirasakan.
Sejumlah lembaga astronomi global, termasuk NASA dan beberapa observatorium, akan menyiarkan gerhana secara langsung melalui internet.
Siaran live streaming ini memberikan kesempatan unik bagi para pecinta astronomi muda di tanah air untuk "mengintip" keajaiban langit, seperti Anda berada di tengah panggung kosmik dari ribuan kilometer jauh. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni