RADARTUBAN – Kisah pilu seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku sekolah, mengguncang hati banyak pihak.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi personal, melainkan potret nyata betapa beratnya beban kemiskinan yang dapat mendorong anak-anak pada keputusasaan.
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto, menilai kejadian tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat.
Dia menekankan pentingnya kepedulian bersama untuk mengawasi kondisi mental anak-anak, khususnya mereka yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
“Di wilayah 3T, akses terhadap layanan psikologis masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat anak-anak merasa terisolasi, seolah harus menghadapi tekanan dan masalah hidup seorang diri tanpa dukungan yang memadai,” ujar Prof. Bagong.
Baca Juga: Ahli Unair Tegaskan Utang Anak Perusahaan Bukan Tanggung Jawab Perusahaan Induk
Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga itu, keluarga dan lingkungan sosial memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan mental anak.
Mereka merupakan pihak terdekat yang dapat lebih cepat menangkap tanda-tanda ketika seorang anak mengalami tekanan atau gangguan psikologis.
Dengan perhatian dan kepedulian dari orang-orang sekitar, anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan bantuan sejak dini sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.
“Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas utama. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa depan,” imbuhnya.
Korban yang berinisial YBR diketahui tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu sederhana berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada.
Kehidupan mereka serba terbatas, jauh dari kenyamanan yang lazim dirasakan anak-anak seusianya.
Sejak kecil, YBR harus berpisah dengan ibu kandungnya, sementara sang ayah merantau ke Kalimantan untuk mencari nafkah.
“Kondisi ekonomi yang sulit kerap menimbulkan beban psikologis pada anak-anak. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak ikut merasakan dampaknya. Mereka tidak hanya menghadapi kekurangan materi, tetapi juga tekanan batin yang dapat mengganggu kesejahteraan mental,” pungkas Prof. Bagong. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama