RADARTUBAN - Komika ternama, Pandji Pragiwaksono, telah menjalani prosesi sidang adat pada hari Selasa (10/2), sebagai konsekuensi dari materi komedi tunggalnya yang dianggap telah melecehkan kebudayaan masyarakat Toraja dalam sebuah pertunjukan.
Dalam menghadiri persidangan tersebut, Pandji tampak didampingi oleh pengacaranya, Haris Azhar.
Agenda hukum adat ini diselenggarakan di Tongkonan Layuk Kaero, Tana Toraja, dengan melibatkan puluhan perwakilan dari jajaran pemangku adat setempat yang berjumlah sekitar 32 tokoh.
Hasil dari keputusan sidang adat tersebut menetapkan bahwa Pandji Pragiwaksono wajib membayar sanksi atau denda dalam bentuk satu ekor babi serta lima ekor ayam.
Pandji sendiri secara terbuka membenarkan adanya kekeliruan yang ia perbuat dan menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam.
Pandji memberikan klarifikasi bahwa materi lelucon yang dibawakan sebenarnya tidak memiliki niatan sedikit pun untuk menjatuhkan atau menistakan warisan tradisi warga Toraja.
Akar dari permasalahan tersebut diakuinya bersumber dari keterbatasan wawasannya yang hanya memandang budaya Toraja dari kacamata orang luar melalui referensi tulisan ilmiah yang ia baca.
Pandji menyadari bahwa dirinya belum benar-benar mendalami esensi tradisi yang berkembang secara langsung di tengah masyarakat setempat, apalagi ia juga mengakui belum pernah berkunjung ke wilayah tersebut sebelum kejadian ini.
Pandji menjelaskan bahwa maksud awal dari pesannya adalah untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar tidak terpaku pada satu sisi saja dalam melihat sebuah permasalahan.
Dia merasa setiap orang penting untuk memahami, menghargai, serta memberikan dukungan terhadap keberagaman sudut pandang dari berbagai tradisi dan budaya yang tersebar di nusantara.
Rasa sesal tersebut muncul karena ia melakukan aksi panggung yang menyentuh ranah adat tanpa memiliki pemahaman yang utuh dari perspektif masyarakat lokal.
Dengan kehadirannya secara langsung di Bumi Toraja, Pandji merasa mendapatkan pelajaran berharga dan menjadi lebih akrab dengan budaya serta penduduk yang ada di sana.
Mengenai teknis pertunjukannya, ia berpendapat bahwa kekeliruan yang terjadi merupakan dampak dari proses persiapan yang kurang maksimal.
Oleh karena itu, Pandji menyampaikan rasa syukur karena telah diberikan teguran serta masukan yang membangun oleh para tetua adat.
Selain itu, Pandji juga mengutarakan rasa hormat dan kekagumannya terhadap sikap terbuka para pemuka adat Toraja yang telah menyambut kedatangannya dengan hangat serta memberikan ruang untuk berdialog secara langsung.
"Bukan itu (untuk menghina) yang saya maksud, tugas seorang pelawak harusnya adalah membuat hati jadi bahagia. Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depannya," kata Pandji. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama