RADARTUBAN – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menegaskan tidak lagi terpaku pada saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam strategi investasinya di pasar modal.
Lembaga pengelola investasi tersebut kini juga membidik emiten swasta dengan fundamental kuat sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.
Strategi Investasi Berbasis Fundamental
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa pemilihan saham dilakukan berdasarkan analisis kinerja dan prospek bisnis, bukan semata-mata karena status kepemilikan negara.
Menurutnya, banyak perusahaan swasta yang memiliki pertumbuhan bisnis solid dan tata kelola yang baik sehingga layak menjadi target investasi jangka menengah hingga panjang.
Pendekatan ini disebut sebagai langkah profesional untuk memastikan setiap keputusan investasi bersifat rasional dan akuntabel.
Baca Juga: Inilah Ciri-ciri Saham Gorengan yang Harus Dihindari Investor Menurut CIO Danantara
Fokus pada Kinerja dan Likuiditas
Pandu menjelaskan, saham yang menjadi incaran Danantara akan dipilih berdasarkan sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan bisnis, kualitas manajemen, stabilitas laba, serta likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dengan pendekatan berbasis fundamental tersebut, Danantara memastikan investasi dilakukan tanpa membedakan latar belakang kepemilikan perusahaan, baik BUMN maupun swasta.
Alokasi Dana ke Pasar Publik
Danantara berencana menyalurkan sekitar 50 persen dana kelolaannya tahun ini ke pasar publik, dengan porsi terbesar difokuskan pada pasar domestik.
Dalam enam bulan ke depan, investasi akan dijalankan melalui kerja sama dengan manajer investasi guna mendorong partisipasi pelaku pasar dan menjaga dinamika perdagangan tetap sehat.
Komitmen Transparansi dan Stabilitas Pasar
Meski belum mengungkap saham spesifik yang dibidik maupun besaran dana yang telah ditanam sejak akhir 2025, Pandu menekankan komitmen Danantara terhadap transparansi agar tidak menimbulkan distorsi pasar.
Ke depan, pemerintah berharap Danantara dapat menjadi salah satu motor penggerak likuiditas dan stabilitas pasar modal Indonesia.
Selain itu, langkah ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham, baik dari perusahaan milik negara maupun sektor swasta. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni