RADARTUBAN - Berita tentang Yazid, pendaki yang sempat hilang di Bukit Mongkrang menjadi salah satu topik yang mengundang perhatian di media sosial belakangan ini.
Ia dilaporkan hilang saat menuruni jalur pendakian pada 18 Januari 2026 setelah terpisah dari rombongan.
Operasi Pencarian Resmi Diluncurkan
Operasi pencarian resmi diluncurkan di hari berikutnya melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, aparat keamanan, relawan, serta masyarakat setempat.
Pencarian berlangsung sekitar 13 hari penuh, dengan anggota tim menyisir jalur pendakian, jurang-jurang, dan area sekitar puncak.
Cuaca ekstrem serta medan yang berat menjadi tantangan besar, membuat proses ini berjalan lama dan penuh risiko.
Sayangnya, pada akhir Januari pencarian resmi dihentikan tanpa hasil. Tim SAR menyatakan tidak menemukan jejak keberadaan Yazid meskipun hampir seluruh area telah disisir.
Baca Juga: 8 Gunung Ramah Pendaki Pemula di Indonesia, Jalur Singkat tapi Pemandangan Juara
Relawan Lanjutkan Pencarian Secara Mandiri
Namun, beberapa relawan tetap melakukan pencarian secara mandiri di luar jalur utama acara SAR.
Harapan keluarga dan komunitas pendaki terus menyala meskipun waktu terus berjalan.
Penemuan Jasad Yazid
Hingga akhirnya pada 10 Februari 2026, jasad Yazid ditemukan oleh tim relawan gabungan di aliran sungai kawasan Bukit Mitis, sekitar lereng yang terhubung dengan jalur Bukit Mongkrang.
Kondisinya dilaporkan masih utuh, dan identitasnya dapat dipastikan melalui pakaian dan peralatan yang dikenakan saat hilang.
Lokasi penemuan berada di wilayah yang cukup jauh dari jalur biasa pendakian, di aliran sungai yang memiliki medan berat dan tak mudah dijangkau.
Hal ini menunjukkan bahwa Yazid mungkin berpindah dari jalur utama saat menuruni bukit atau terjatuh ke area yang lebih sulit.
Evakuasi dan Proses Pemakaman
Setelah ditemukan, pihak berwenang serta keluarga melakukan koordinasi untuk proses evakuasi jasadnya ke RSUD Karanganyar, di mana kemudian akan dilanjutkan dengan prosesi pemakaman.
Pelajaran dari Kasus Tragis Ini
Peristiwa ini memberi banyak pelajaran tentang betapa cepat alam dapat menjadi tidak ramah, sekaligus pentingnya kesiapsiagaan dan perencanaan dalam kegiatan pendakian.
Kisah Yazid pun bukan hanya sekadar berita tragis, tetapi juga pengingat bagi para pecinta alam untuk selalu memperhatikan keselamatan, memantau kondisi cuaca, serta tidak meremehkan rute yang dipilih, terutama di area pegunungan yang medan dan cuacanya bisa berubah drastis dalam hitungan menit.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni