Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gegara Uang Hilang, Oknum Guru di Jember Paksa Murid Copot Baju, Langsung Diskors Dinas Pendidikan

Antika Luviana • Kamis, 12 Februari 2026 | 19:35 WIB

Ilustrasi Mata uang Indonesia
Ilustrasi Mata uang Indonesia

RADARTUBAN - Dunia pendidikan kembali jadi sorotan publik. Seorang oknum guru PPPK berinisial FT di Jember, Jawa Timur, viral setelah diduga memaksa siswanya melepas pakaian di lingkungan sekolah.

Aksi tersebut menuai kecaman luas karena dianggap melanggar etika, norma, dan martabat peserta didik.

Bermula dari Kehilangan Uang

Peristiwa ini bermula dari masalah kehilangan uang yang dialami sang guru. FT mengaku beberapa kali kehilangan uang pribadi di sekolah.

Puncaknya terjadi pada Jumat (6/2) saat ia kembali kehilangan uang sebesar Rp 75.000.

Sebelumnya Senin (2/2), ia juga mengaku kehilangan Rp 200.000. Kejadian berulang itu disebut membuat emosinya semakin tak terkendali.

Baca Juga: Universitas PGRI Ronggolawe Tuban Kukuhkan Tiga Guru Besar Sekaligus, Perkuat Posisi Kampus Terbaik di Bumi Wali

Emosi Memuncak, Siswa Dipaksa Lepas Baju

Alih-alih menyelesaikan masalah secara prosedural, FT justru mengambil langkah yang dinilai keliru.

Dalam kondisi emosi memuncak, ia memaksa sejumlah siswa untuk melepas baju dengan tujuan mencari uang yang hilang.

Tindakan tersebut sontak membuat siswa merasa tertekan dan trauma.

Penjelasan Dinas Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan Jember, Arif Jahono, menjelaskan bahwa tindakan FT dipicu oleh tekanan psikologis.

Faktor kelelahan, kondisi kesehatan yang menurun, serta emosi akibat kehilangan uang berulang disebut menjadi pemicu hingga yang bersangkutan kehilangan kontrol dan bertindak di luar batas sebagai pendidik.

Langsung Dibebastugaskan

Kasus ini kemudian viral di media sosial dan memancing kemarahan publik, terutama para wali murid. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap hak dan martabat anak.

Menanggapi hal itu, Dinas Pendidikan Jember langsung mengambil langkah tegas dengan menarik FT dari tugas mengajarnya. Selain dibebastugaskan, FT juga akan menjalani proses pemeriksaan sesuai aturan yang berlaku dan terancam sanksi administratif.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa disiplin di sekolah tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Apa pun alasannya, kekerasan dan tindakan memalukan tidak pernah dibenarkan dalam dunia pendidikan. (*)

 
 
 

 

Aksi tersebut menuai kecaman luas karena dianggap melanggar etika, norma, dan martabat peserta didik.

Peristiwa ini bermula dari masalah kehilangan uang yang dialami sang guru. FT mengaku beberapa kali kehilangan uang pribadi di sekolah. Puncaknya terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026, saat ia kembali kehilangan uang sebesar Rp75.000. Sebelumnya, pada 2 Februari, ia juga mengaku kehilangan Rp200.000, yang membuat emosinya semakin tak terkendali.

Alih-alih menyelesaikan masalah secara prosedural, FT justru mengambil langkah yang dinilai keliru. Dalam kondisi emosi memuncak, ia memaksa sejumlah siswa untuk melepas baju dengan tujuan mencari uang yang hilang. Tindakan tersebut sontak membuat siswa merasa tertekan dan trauma.
Kepala Dinas Pendidikan Jember, Arif Jahono, menjelaskan bahwa tindakan FT dipicu oleh tekanan psikologis. Faktor kelelahan, kondisi kesehatan yang menurun, serta emosi akibat kehilangan uang berulang disebut menjadi pemicu utama hingga yang bersangkutan kehilangan kontrol dan bertindak di luar batas sebagai pendidik.

Kasus ini kemudian viral di media sosial dan memancing kemarahan publik, terutama para wali murid. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap hak dan martabat anak. Menanggapi hal itu, Dinas Pendidikan Jember langsung mengambil langkah tegas dengan menarik FT dari tugas mengajarnya.

Selain dibebastugaskan, FT juga akan menjalani proses pemeriksaan sesuai aturan yang berlaku dan terancam sanksi administratif. Kasus ini menjadi pengingat bahwa disiplin di sekolah tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Apa pun alasannya, kekerasan dan tindakan memalukan tidak pernah dibenarkan dalam dunia pendidikan.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kehilangan uang #jember #guru pppk #skors #melepas baju