RADARTUBAN - Fenomena sulitnya menembus pasar tenaga kerja saat ini ternyata tidak lagi hanya menjadi beban pikiran bagi masyarakat kelas menengah atau para lulusan baru yang belum berpengalaman.
Di Amerika Serikat, kegelisahan yang sama kini mulai merambah ke lingkaran para miliarder yang mulai merasa waswas terhadap keberlangsungan karier anak-anak mereka di masa depan.
Kondisi ini dipaparkan oleh Patrick Dwyer, selaku Managing Director dari Aligned by NewEdge Wealth, sebuah firma manajemen kekayaan di Miami yang mengelola aset klien-klien superkaya dengan nilai kekayaan bersih berkisar antara 100 juta dolar AS hingga lebih dari 1 miliar dolar AS.
Berdasarkan pengamatan Dwyer, klien-kliennya merasa sangat khawatir terhadap anak-anak mereka yang kini berada di rentang usia 22 hingga 35 tahun.
Mereka ragu apakah generasi penerus tersebut mampu menjaga eksistensi karier di bidang-bidang yang selama ini dianggap sebagai zona aman dan menjanjikan pendapatan besar, seperti industri teknologi, sektor hukum, hingga profesi kedokteran.
Kecemasan para orang tua kaya ini didukung oleh fakta yang cukup mengkhawatirkan.
Data dari Federal Reserve menunjukkan bahwa angka pengangguran di kalangan sarjana baru di Amerika Serikat terus mengalami tren kenaikan selama tiga tahun belakangan, hingga menyentuh angka 9,7% pada September 2025.
Selain itu, laporan dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga menyebutkan bahwa tahun 2024 menjadi periode paling lesu dalam hal penyerapan tenaga kerja sejak tahun 2009, jika tidak menyertakan tahun 2020 yang sempat lumpuh akibat pandemi.
Tekanan di pasar kerja ini pun akhirnya dirasakan oleh kelompok ultra-kaya, meskipun secara ekonomi mereka memiliki kemampuan untuk menanggung biaya hidup anak-anaknya hingga waktu yang lama.
Dwyer menjelaskan bahwa para orang tua dari kalangan elit ini menyadari satu hal penting apabila mereka tidak menurunkan warisan kekayaan yang cukup signifikan atau jika anak-anak mereka gagal menciptakan kekayaan secara mandiri, maka generasi berikutnya berisiko memiliki tingkat kebebasan dan kendali atas hidup yang lebih rendah dibandingkan orang tua mereka.
Meski demikian, Michael Hans selaku Chief Investment Officer di Citizens Wealth memberikan catatan bahwa ketidakstabilan pasar kerja ini tidak secara langsung mengancam fondasi ekonomi keluarga superkaya.
Menurutnya, kelompok dengan kekayaan antara 10 juta hingga 20 juta dolar AS umumnya tidak akan sampai kehilangan tempat tinggal atau harus membatalkan rencana liburan eksklusif mereka.
Namun, fokus para miliarder ini adalah memastikan anak-anak mereka tidak perlu mengalami penurunan gaya hidup akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Beberapa ahli di bidang ketenagakerjaan menilai bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pemicu utama yang mempersempit ketersediaan lapangan kerja.
Di sisi lain, melonjaknya biaya hidup serta cicilan properti membuat para pekerja senior lebih memilih untuk bertahan di posisi mereka saat ini, sehingga menghambat rotasi pekerjaan bagi generasi muda.
Ekonom senior di Gusto, Nich Tremper, menyebutkan bahwa banyak pekerja kini enggan untuk berpindah tempat kerja.
Karena tidak banyak orang yang mengundurkan diri atau mencari posisi baru, peluang bagi pekerja di tingkat pemula untuk masuk dan memulai perjalanan karier mereka pun menjadi semakin langka.
Ketidakpastian mengenai berapa banyak posisi pekerjaan yang akan digantikan oleh mesin di masa depan membuat para miliarder mengevaluasi kembali metode mereka dalam mendidik anak.
Jalur kesuksesan konvensional yang biasanya dimulai dari menempuh pendidikan di sekolah bergengsi, melakukan magang di perusahaan terkemuka, lalu merangkak naik di tangga karier melalui koneksi, kini dianggap tidak lagi memadai.
Dwyer menegaskan bahwa kondisi dunia saat ini sudah berubah total.
Keluarga kaya harus mulai memikirkan cara baru dalam menyokong anak-anak mereka, yang mungkin bukan lagi sekadar memberi fasilitas mewah, melainkan mempersiapkan dana jika sewaktu-waktu anak mereka perlu melakukan pelatihan ulang keterampilan di usia kepala tiga.
Sebagai bentuk adaptasi, banyak klien Dwyer yang kini justru memberikan dukungan finansial bagi anak-anak mereka untuk mendirikan perusahaan sendiri di sektor-sektor industri baru dan mengarahkan mereka ke dunia kewirausahaan sejak usia muda.
Hal ini dilakukan meskipun berbisnis sendiri memiliki risiko tinggi, mulai dari penghasilan yang tidak tetap hingga potensi kegagalan yang besar di awal.
Walaupun banyak ahli bisnis kecil tidak menyarankan berwirausaha sebagai pelarian dari ketidakstabilan karier, anak-anak dari keluarga ultra-kaya memiliki keunggulan berupa jaminan finansial yang memungkinkan mereka untuk gagal berkali-kali hingga akhirnya menemukan keberhasilan.
Menurut pandangan Dwyer, proses membangun bisnis dari nol justru akan menempa karakteristik krusial seperti daya tahan mental dan fleksibilitas dalam beradaptasi, kualitas yang sangat dicari dalam ekosistem kerja modern.
Dwyer meyakini bahwa anak muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang pemasaran, keuangan, dan tata kelola bisnis akan menjadi sumber daya yang sangat bernilai di pasar tenaga kerja masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni