RADARTUBAN – Nilai jual daging ayam ras di tingkat produsen saat ini menunjukkan tren kenaikan dan diklaim memberikan profit bagi pelaku usaha peternakan.
Kabar tersebut dipicu lonjakan permintaan pasar.
Salah satu faktor utamanya adalah penyerapan stok untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ditambah sentimen positif menjelang bulan suci Ramadan serta perayaan libur Imlek.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, menyampaikan bahwa harga jual ayam hidup di tingkat kandang saat ini sudah berada di atas biaya pokok produksi (BPP).
“Modal peternak berada di kisaran Rp 21.000 sampai Rp 23.000 per kilogram. Sekarang harga jual di kandang sudah di atas itu,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, para peternak dapat menikmati margin keuntungan yang lebih sehat.
Sugeng menjelaskan, harga ayam hidup saat ini juga telah sejalan dengan regulasi dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024. Dalam aturan itu, batas bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen ditetapkan Rp23.000 per kg, sedangkan batas atasnya Rp25.000 per kg.
“Sekarang harga di peternak menyentuh Rp 25.000 per kilogram, atau tepat di batas maksimal HAP,” jelasnya.
Untuk ayam berukuran besar, bobot per ekor umumnya mencapai 2 kilogram atau lebih.
Menurut Sugeng, program MBG memberikan dampak nyata terhadap kenaikan permintaan ayam.
Hal tersebut tercermin dari menguatnya harga di tingkat produsen, yang juga diperkuat oleh faktor musiman seperti Ramadan dan Imlek yang secara tradisional mendorong konsumsi masyarakat.
GOPAN juga mengapresiasi keterlibatan badan usaha milik negara (BUMN) di industri perunggasan, khususnya pada sektor hulu.
Terlebih, terdapat wacana pemerintah membangun pabrik pakan serta kawasan peternakan guna mendukung kebutuhan program MBG.
Kehadiran BUMN di sektor pakan dan penyediaan bibit atau day old chick (DOC) dinilai mampu memperbaiki tata kelola industri secara menyeluruh dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan peternak ayam broiler.
“Intervensi negara diperlukan untuk menciptakan keseimbangan penguasaan faktor produksi. Kalau pakan dan bibit bisa lebih terjangkau, maka usaha peternak menjadi lebih berkelanjutan,” paparnya.
Namun, Sugeng menegaskan keberatan apabila BUMN turut terjun langsung ke sektor budidaya ayam broiler. Menurutnya, hal itu berpotensi melahirkan pesaing baru yang berat bagi peternak rakyat maupun mandiri.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp 20 Triliun Bangun 12 Pabrik Pakan Ayam untuk Kemandirian Peternak Nasional
Sebagai alternatif, ia mendorong pemerintah melalui BUMN agar lebih fokus membangun Rumah Potong Ayam (RPA).
Fasilitas tersebut dinilai krusial agar produksi peternak rakyat dapat terserap optimal oleh negara sehingga keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga.
Selain itu, Sugeng juga menyoroti persoalan distribusi DOC yang belum merata. Ia mencatat masih banyak peternak yang mengalami kekosongan kandang karena harus mengantre lama untuk memperoleh bibit ayam.
“Kondisi ini perlu segera dibenahi agar siklus produksi peternak tidak terputus,” pungkasnya. (*)