Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sulit Dapat Jodoh Karena Standar Medsos? Reaksi Ayah Bahas Racun Konten dan Mental People Pleaser

Antika Luviana • Minggu, 22 Februari 2026 | 08:05 WIB

Ilustrasi Media Sosial
Ilustrasi Media Sosial

RADARTUBAN – Fenomena sulitnya anak muda menemukan pasangan hidup belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Salah satu faktor yang disorot adalah tingginya standar hubungan yang terbentuk dari konten digital yang viral di platform media sosial.

Topik tersebut dibahas dalam konten deep talk bertajuk “Reaksi Ayah” bersama kreator Ahmad Risyad dan ayahnya, yang menyoroti dampak psikologis media sosial terhadap cara pandang generasi muda dalam menjalin hubungan.

Standar Hubungan Dinilai Tidak Realistis

Dalam diskusi tersebut, sang ayah menilai banyak anak muda tanpa sadar terpengaruh oleh kutipan motivasi, video pendek, maupun konten gaya hidup yang menampilkan standar pasangan yang dianggap ideal namun tidak selalu realistis.

Ia mencontohkan narasi yang sering muncul di media sosial, seperti pasangan harus memiliki mobil mewah, gaya hidup glamor, hingga pengalaman hiburan mahal sebagai tolok ukur kebahagiaan dalam hubungan.

Menurutnya, sebagian konten tersebut lebih bertujuan menarik perhatian publik dibanding merepresentasikan kehidupan nyata.

“Banyak anak muda jadi tidak rasional karena menganggap bahagia harus selalu identik dengan kemewahan atau gaya hidup tinggi,” ujarnya dalam video tersebut.

Dampaknya, sebagian perempuan disebut menunggu ekspektasi yang terlalu tinggi, sementara laki-laki justru merasa minder sebelum mencoba menjalin hubungan.

Daya Tarik Tidak Selalu Soal Materi

Diskusi juga menyinggung fenomena pasangan yang kerap dianggap “tidak seimbang” secara materi maupun penampilan, namun tetap memiliki hubungan yang harmonis.

Sang ayah menjelaskan bahwa ketertarikan seseorang bersifat subjektif. Faktor seperti humor, kenyamanan saat berkomunikasi, hingga kepribadian yang menenangkan justru sering menjadi alasan utama seseorang jatuh cinta.

Ia menekankan bahwa pengembangan karakter dan kemampuan interpersonal dapat menjadi nilai tambah yang lebih penting dibanding standar material.

Etika dalam Hubungan Jadi Sorotan

Selain membahas pencarian pasangan, percakapan tersebut juga menyoroti etika dalam hubungan, khususnya cara menyampaikan kritik kepada pasangan.

Sang ayah mengingatkan agar persoalan pribadi tidak dibicarakan di depan umum karena berpotensi mempermalukan pasangan, meskipun niat awalnya untuk menasihati.

Menurutnya, komunikasi yang baik sebaiknya dilakukan secara pribadi agar hubungan tetap sehat dan saling menghargai.

Gen Z Diingatkan Tidak Jadi People Pleaser

Di akhir diskusi, pesan lain yang ditekankan adalah pentingnya sikap tegas dalam kehidupan sosial.

Generasi muda diingatkan untuk tidak selalu berusaha menyenangkan semua orang (people pleaser), karena dapat berdampak pada kesehatan mental dan batasan diri.

Ia mendorong anak muda untuk berani menyampaikan perasaan secara jujur, termasuk mengatakan lelah atau menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

“Setiap orang punya kendali atas hidupnya sendiri. Jangan sampai keputusan hidup sepenuhnya ditentukan oleh tekanan sosial,” tutupnya. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#jodoh #anak muda #media sosial #Insecure #pasangan hidup