RADARTUBAN – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti pentingnya penguatan kekuatan udara nasional di tengah perubahan pola peperangan modern yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat memberikan kuliah umum kepada peserta dan personel Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) di Jakarta, Senin (23/2).
Soroti Ancaman Perang Modern
Dalam pemaparannya, SBY membahas dinamika geopolitik global yang semakin dipengaruhi rivalitas kekuatan besar dunia.
Baca Juga: Hampir Separuh Warga AS Yakin Perang Dunia III Bisa Terjadi dalam Lima Tahun
Ia menilai karakter perang saat ini telah berubah drastis dibandingkan era sebelumnya.
Menurutnya, peperangan modern kini memasuki fase baru yang melibatkan kecerdasan buatan (AI), robotika, hingga strategi non-konvensional atau perang hibrida.
Para peserta yang terdiri dari P3N Angkatan XXVII, P4N Angkatan LXIX, serta personel Lemhannas RI mengikuti materi mengenai tantangan keamanan global dan kesiapan pertahanan nasional di masa depan.
Kekuatan Udara Jadi Faktor Kunci
SBY menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi dapat hanya bergantung pada kekuatan darat seperti pada masa lalu melalui doktrin pertahanan rakyat semesta (Hankamrata) yang berfokus pada pertahanan wilayah dan strategi gerilya.
Ia menilai kekuatan udara kini menjadi elemen vital dalam sistem pertahanan modern.
“Dulu seolah-olah Indonesia lebih mengutamakan angkatan darat, sekarang kekuatan udara sangat penting,” ujarnya dalam kuliah umum tersebut.
Skenario Hipotetis Serangan Udara
Dalam ilustrasi hipotetis, SBY menggambarkan kemungkinan serangan udara yang dapat menargetkan pusat pemerintahan maupun industri strategis nasional, seperti Jakarta, fasilitas pertahanan di Bandung, hingga kawasan industri maritim di Surabaya.
Melalui contoh tersebut, ia mengajak peserta untuk memikirkan kesiapan nasional apabila menghadapi ancaman serupa di masa depan.
SBY menekankan bahwa kesiapan tidak hanya bergantung pada alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga kualitas sumber daya manusia, peningkatan keterampilan militer, serta kebijakan pertahanan yang adaptif.
Baca Juga: Jika Perang Dunia 3 Terjadi, Ini Daftar Negara yang Dianggap Paling Aman
Semua Matra TNI Harus Siap
Menurut SBY, konsep perang hibrida menuntut kesiapan seluruh matra Tentara Nasional Indonesia tanpa adanya prioritas tunggal.
Ia menegaskan bahwa pertahanan modern membutuhkan integrasi kekuatan darat, laut, dan udara secara simultan agar mampu menghadapi ancaman multidimensi.
Pernyataan tersebut juga sejalan dengan peringatannya mengenai meningkatnya ketegangan global yang berpotensi memicu konflik berskala besar di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni