Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Apakah AC dan Kulkas Bakal Punah? Peneliti Temukan Cara Dinginkan Ruangan Tanpa Menggunakan Freon

M Robit Bilhaq • Rabu, 25 Februari 2026 | 06:28 WIB

Ilmuwan Berkeley Temukan Cara Mendinginkan Ruangan Tanpa Freon, AC dan Kulkas
Ilmuwan Berkeley Temukan Cara Mendinginkan Ruangan Tanpa Freon, AC dan Kulkas

RADARTUBAN - Dalam sistem pendinginan, para ilmuwan telah berhasil menciptakan inovasi teknologi yang mampu menggantikan penggunaan zat kimia berisiko, seperti hydrofluorocarbons (HFC) atau lebih dikenal dengan sebutan freon.

Cara Kerja Sistem Pendinginan Konvensional

Mengutip laporan dari IFL Science, mekanisme pendinginan tradisional umumnya bekerja dengan cara mentransfer panas dari dalam area ruangan melalui media cairan khusus yang memiliki kemampuan menyerap energi panas.

Baca Juga: Ternyata Ini Manfaat Menaruh Soda Kue di Kulkas, Simpel Tapi Ampuh

Cairan penyerap panas kemudian diuapkan hingga berubah menjadi gas dan disalurkan melalui jalur sistem tertutup.

Selanjutnya, gas tersebut dikondensasikan kembali menjadi bentuk cair untuk mengulangi siklus pendinginan dari awal.

Terobosan Baru dari Peneliti Lawrence Berkeley National Laboratory

Sebagai inovasi terbaru, tim peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory yang bernaung di bawah University of California, Berkeley, merancang metode mutakhir untuk menyerap serta memindahkan energi panas.

Pendekatan yang mereka terapkan mengandalkan prinsip bagaimana energi disimpan dan dilepaskan ketika sebuah material mengalami transisi fase atau perubahan bentuk, serupa dengan fenomena es yang berubah menjadi air.

Baca Juga: Samsung Mulai Tampilkan Iklan di Kulkas Pintar Family Hub tapi Bikin Konsumen Protes, Kenapa?

Prinsip Pendinginan dari Perubahan Fase Material

Apabila suhu di sebuah ruangan meningkat, es akan mengalami proses pencairan secara alami.

Di saat yang bersamaan, proses perubahan es menjadi cair tersebut menyedot panas dari lingkungan sekelilingnya, yang pada akhirnya memberikan efek dingin pada ruangan tersebut.

Dalam upaya menemukan alternatif pendinginan, para ahli memfokuskan riset pada cara memicu proses pencairan tanpa harus menaikkan suhu.

Teknologi Ion Jadi Kunci Inovasi Pendinginan

Teknik yang berhasil ditemukan adalah dengan mengintegrasikan partikel bermuatan energi yang disebut sebagai ion.

Contoh nyata dari proses pencairan yang dipicu oleh partikel ion ini dapat dilihat pada penggunaan garam untuk menghalangi pembentukan lapisan es di jalanan saat musim salju di negara-negara beriklim subtropis.

Siklus perubahan wujud materi melalui bantuan ion tersebut kemudian secara resmi dinamakan sebagai siklus ionokalori (ionocaloric cycle).

Klaim Efisiensi Tinggi dan Ramah Lingkungan

Menurut keterangan dari Drew Lilley, salah satu peneliti di Lawrence Berkeley National Laboratory, sejauh ini belum ada solusi alternatif yang mampu menghasilkan efek dingin secara sukses dengan tingkat efisiensi tinggi, aman digunakan, sekaligus ramah terhadap kelestarian alam.

Drew meyakini bahwa siklus ionokalori memiliki potensi besar untuk menjadi jawaban atas tantangan tersebut.

Baca Juga: Kulkas Polytron Jadi Pilihan Utama Konsumen di Tuban

Eksperimen Gunakan Garam dan Karbon Dioksida

Selain itu, para peneliti tersebut juga telah melakukan serangkaian eksperimen menggunakan garam yang diformulasikan dari natrium dan yodium guna mencairkan zat etilena karbonat.

Menariknya, cairan yang dihasilkan memanfaatkan karbon dioksida dan juga sering digunakan sebagai komponen dalam baterai litium-ion.

Hal ini menandakan bahwa proses produksinya tidak sekadar menghasilkan nol emisi, melainkan bersifat emisi negatif karena justru menyerap karbon.

Hanya Butuh Listrik 1 Volt untuk Turunkan Suhu

Melalui uji laboratorium yang dilakukan, mereka berhasil menciptakan perubahan suhu mencapai 25 derajat Celcius hanya dengan menggunakan daya listrik sebesar 1 volt.

Saat ini, para ilmuwan sedang berupaya membangun sistem praktis yang siap untuk digunakan di sektor komersial secara luas.

Salah satu fokus pengembangan utama mereka adalah mengidentifikasi jenis garam yang paling optimal dalam menarik panas dari sebuah ruangan.

Riset Terbaru Temukan Garam Paling Efisien

Pada tahun 2025, hasil riset menemukan bahwa jenis garam yang memiliki efisiensi paling tinggi dalam proses ini adalah garam yang berbasis nitrat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kulkas #pendinginan #freon #ac #pendingin