Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alarm Bahaya! Ini Dampak Ngeri Jika Indonesia Impor 105 Ribu Pick up India Menurut Pengusaha

M Robit Bilhaq • Rabu, 25 Februari 2026 | 08:30 WIB

Ilustrasi mobil pick up
Ilustrasi mobil pick up

RADARTUBAN - Saat ini rencana pengadaan unit transportasi di lingkungan perusahaan milik negara sedang menjadi pusat perhatian publik.

Rencana Impor 105 Ribu Pick Up Picu Sorotan Publik

Isu tersebut mencuat setelah adanya kabar mengenai rencana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendatangkan 105.000 unit mobil bak terbuka dari India untuk mendukung kegiatan operasional Koperasi Merah Putih.

Langkah tersebut memicu kegelisahan di sektor manufaktur domestik, hingga akhirnya Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengusulkan agar agenda impor dalam jumlah masif tersebut ditangguhkan terlebih dahulu.

Baca Juga: Heboh Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pick Up dari India, Dasco Minta Pemerintah Jangan Gegabah!

Industri Mesin Nasional Khawatir Terdampak Kebijakan Impor

Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia berpendapat bahwa kebijakan mendatangkan kendaraan dari luar negeri tidak boleh hanya dilihat sebagai aktivitas jual beli biasa, karena hal tersebut akan menimbulkan dampak struktural yang luas bagi ekosistem industri di Indonesia.

Dadang Asikin, yang memimpin organisasi tersebut, menekankan bahwa sektor permesinan merupakan elemen inti yang menggerakkan proses industrialisasi otomotif di tingkat nasional.

Dadang berpendapat bahwa setiap kebijakan yang berpotensi mendegradasi industri otomotif lokal akan secara otomatis memukul industri pendukungnya, terutama di bidang pengerjaan logam dan mesin.

Satu Mobil Libatkan Rantai Produksi Industri yang Panjang

Lebih lanjut, Dadang menjelaskan bahwa dalam pembuatan satu unit mobil, sebenarnya melibatkan ratusan komponen yang merupakan buah dari rekayasa mesin serta alat produksi yang kompleks.

Di balik wujud sebuah kendaraan, terdapat rangkaian proses panjang yang meliputi tahap rancang bangun, fabrikasi, hingga pengerjaan teknik yang selama ini diupayakan oleh industri dalam negeri.

Hal inilah yang dianggap sebagai pilar utama dalam membangun kemandirian industri di Indonesia.

Dampak Meluas Hingga Tenaga Kerja dan Pendidikan Teknik

Menurut Dadang, peran industri permesinan tidaklah terisolasi, tetapi memiliki keterikatan kuat dengan sektor logam dasar dan baja, pelaku usaha komponen skala kecil dan menengah, hingga dunia pendidikan kejuruan dan teknik.

Dampak dari penguatan sektor ini juga sangat terasa pada ketersediaan lapangan kerja bagi tenaga ahli yang terampil.

Dadang menggarisbawahi bahwa penguasaan atas teknologi mesin, alat produksi, dan rekayasa teknik di dalam negeri akan menentukan apakah Indonesia mampu bersaing di kancah otomotif dunia.

Dadang memperingatkan bahwa tanpa mengendalikan sektor-sektor kunci tersebut, Indonesia hanya akan terus terjebak sebagai pasar bagi produk luar.

Dorongan Evaluasi Total Kebijakan Pengadaan Kendaraan BUMN

Maka dari itu, Dasang mendorong dilakukannya peninjauan kembali secara total terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di jajaran BUMN agar sejalan dengan cita-cita besar mencapai kedaulatan industri nasional.

Dadang menegaskan bahwa komitmen untuk mengutamakan produk dalam negeri tidak boleh berhenti pada retorika semata, melainkan harus diimplementasikan secara nyata dan konsisten dalam setiap keputusan pemerintah, sehingga industri lokal benar-benar menjadi prioritas utama. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#lapangan pekerjaan #Otomotif Nasional #india #mobil bak terbuka #pengusaha #Koperasi Merah Putih #pick up #sufmi dasco ahmad