Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Balik Kesuksesan Jerome Polin: Dari Perfeksionis yang Sulit Delegasi hingga Belajar Arti Pertemanan Sejati

Antika Luviana • Jumat, 27 Februari 2026 | 18:35 WIB

Jerome polin ungkap tentang sebuah arti pertemanan
Jerome polin ungkap tentang sebuah arti pertemanan

RADAR TUBAN – Siapa tak kenal Jerome Polin? Pria yang identik dengan beasiswa Jepang dan konten edukasi matematika ini selalu tampil energik di depan kamera.

Namun, siapa sangka di balik senyum lebarnya, Jerome harus menelan banyak fakta pahit untuk bisa berkembang di usianya yang kini memasuki fase dewasa.

Perubahan Prinsip Hidup dari Sosok Perfeksionis

Dalam podcast bersama Bilal, Jerome blak-blakan mengenai perubahan prinsip hidupnya.

Dulu, ia mengaku sebagai sosok yang sangat perfeksionis. Semua hal, mulai dari mengedit video, membuat thumbnail, hingga membalas pesan kerja sama, ia kerjakan sendiri.

"Dulu aku susah banget buat delegasiin tugas ke orang lain. Aku merasa cuma aku yang bisa bikin ini jadi yang terbaik. Tapi akhirnya aku sadar, perfection is stagnation. Kalau kita terus begitu, waktu kita habis dan kita nggak berkembang," ungkap Jerome dengan nada reflektif.

Baca Juga: Kabar Duka, Ayah YouTuber Jerome Polin Marojahan Sintong Sijabat Meninggal Dunia

Belajar Delegasi dan Membangun Tim Besar

Kini, Jerome telah bertransformasi. Ia berhasil membangun tim besar melalui Mantappu Corp yang mempekerjakan lebih dari 40 orang.

Baginya, belajar percaya pada orang lain adalah kunci utama untuk melompat lebih jauh.

Salah satu pengakuan paling mengejutkan adalah rasa kesepian yang ia alami setelah kembali ke Indonesia. Jerome merasa sulit menemukan teman yang benar-benar murni berteman tanpa motif transaksional.

Kesepian di Balik Popularitas

"Sangat susah di posisiku karena saat kenal orang baru, aku nggak tahu motifnya apa. Seringkali baru kenalan, ujung-ujungnya bahas bisnis. Itu yang bikin aku sempat takut berteman," akunya.

Bahkan, salah satu resolusi Jerome di tahun 2025 adalah secara aktif mencari teman sejati, bukan sekadar relasi kerja.

Pesan untuk Anak Muda

Di akhir obrolan, Jerome memberikan pesan kuat bagi generasi muda yang tengah mengejar mimpi.

Ia mengutip sebuah kalimat yang menjadi pegangannya: "Bahaya terbesar bagi manusia bukanlah ketika mereka bermimpi terlalu tinggi lalu gagal, tapi saat mereka bermimpi terlalu rendah dan mereka berhasil."

Menurutnya, mimpi yang rendah membuat manusia cepat puas dan tidak mengeluarkan kapasitas maksimalnya.

"Jangan takut bermimpi setinggi mungkin. Meskipun gagal mencapai angka 100, setidaknya usahamu sudah membawamu ke angka 90 atau 95, jauh lebih tinggi daripada hanya menargetkan angka aman," pungkasnya.

Kisah Jerome Polin ini menjadi pengingat bahwa di balik kemilau kesuksesan di media sosial, ada proses pendewasaan yang menyakitkan, kegagalan yang membumi, dan perjuangan melawan ego yang tak henti-hentinya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Jerome Polin #persahabatan #perfeksionis