RADARTUBAN - Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah mulai merambah ke sektor diagnostik medis di Indonesia, khususnya dalam upaya penanganan penyakit kanker.
Teknologi canggih ini diposisikan sebagai pembaca tahap awal atau first reader yang membantu proses pemindaian serta analisis terhadap indikasi kanker paru-paru dan kanker payudara.
Walaupun demikian, para ahli medis memberikan penekanan yang sangat tegas bahwa keberadaan AI tidak akan pernah menggeser atau menggantikan posisi tenaga medis manusia.
AI Tidak Menggantikan Dokter, Tapi Mengubah Cara Kerja Medis
Dalam sebuah diskusi bertajuk transformasi skrining kanker menggunakan AI yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (25/2) Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Jeffry Beta Tenggara, memaparkan pandangannya mengenai fenomena ini.
Jeffry menyatakan bahwa AI memang tidak akan menggantikan peran dokter, namun ia memperingatkan bahwa para praktisi medis yang tidak memanfaatkan teknologi AI mungkin akan tertinggal dalam hal kompetensi dibandingkan dengan rekan sejawat mereka yang sudah mengintegrasikan teknologi tersebut.
Data Kanker Nasional dan Tantangan Deteksi Dini
Mengacu pada data dari GLOBOCAN tahun 2020, dr. Jeffry menyebutkan bahwa terdapat sekitar 65 ribu temuan kasus baru kanker payudara dengan angka kematian yang menembus angka 22 ribu jiwa.
Sebagian besar dari kasus-kasus tersebut memiliki kaitan erat dengan ekspresi protein HER2 yang dikenal sebagai pemicu pertumbuhan sel kanker yang sangat agresif.
Dirinya menjelaskan bahwa dengan menjadikan AI sebagai asisten bagi dokter, identifikasi jenis kanker payudara dapat dilakukan dengan durasi yang lebih singkat namun tetap memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Hal ini diharapkan mampu menunjang pengambilan keputusan klinis terkait terapi yang lebih presisi dan tepat waktu.
Kondisi beban penyakit kanker di skala nasional saat ini memang menunjukkan tren peningkatan, di mana setiap tahunnya tercatat sekitar 400 ribu kasus baru dengan angka fatalitas mencapai 240 ribu jiwa.
Data dari Kementerian Kesehatan bahkan memprediksi akan terjadi lonjakan jumlah kasus hingga lebih dari 70 persen pada tahun 2050 mendatang apabila sistem deteksi dini tidak segera diperkuat.
Tantangan Diagnosis Kanker Paru di Indonesia
Terkait isu kanker paru, tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya tingkat keterlambatan dalam proses diagnosis, di mana sekitar 90 persen pasien baru memeriksakan diri saat sudah memasuki stadium lanjut.
Dokter spesialis pulmonologi, dr. Sita Laksmi Andarini, mengungkapkan fakta bahwa perkembangan sel kanker paru dari fase awal menuju stadium lanjut hanya membutuhkan waktu singkat, berkisar antara 1 hingga 1,5 tahun saja.
Menurutnya, keterlambatan diagnosis selama satu tahun saja sudah bisa mengubah peluang kesembuhan pasien secara signifikan, belum lagi perbedaan stadium yang berbanding lurus dengan pembengkakan biaya pengobatan yang bisa mencapai lima kali lipat lebih mahal.
Baca Juga: Krisis Dokter Spesialis, Pemerintah Resmi Buka 156 Prodi Kedokteran untuk Perkuat Layanan Kesehatan
Peran AI dalam Meningkatkan Akurasi Deteksi
Di sinilah peran vital AI mulai terlihat nyata.
Pada kasus kanker payudara, teknologi ini membantu dokter menilai status protein HER2, bahkan untuk kategori yang sangat sulit dibedakan seperti HER2-low dan HER2-ultra low.
Berdasarkan studi yang dipaparkan dalam forum ASCO 2025, penggunaan AI terbukti mampu meningkatkan kemampuan deteksi kategori HER2-ultra low hingga 40 persen dengan tingkat akurasi penilaian mencapai 92 persen.
Sedangkan untuk kanker paru, AI dimanfaatkan untuk memindai hasil foto rontgen dada guna memberikan tanda pada nodul paru yang dianggap mencurigakan, sehingga dokter radiologi dapat memprioritaskan kasus-kasus yang memiliki indikasi abnormal.
Efisiensi Kerja Rumah Sakit dengan Teknologi AI
Dokter Spesialis Radiologi, dr. Dewi Tantra Hardiyanto, menambahkan bahwa implementasi AI dilaporkan mampu mempercepat durasi penyelesaian laporan medis hingga sekitar 40 persen, yang secara otomatis membuat alur kerja di rumah sakit menjadi jauh lebih efisien.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa AI hanyalah instrumen pembaca awal yang memberikan tanda pada area berisiko, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang melakukan verifikasi klinis dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh.
Solusi Keterbatasan Dokter dan Tantangan Geografis
Dari sudut pandang patologi anatomi, Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo menyatakan bahwa integrasi AI merupakan solusi bagi Indonesia yang memiliki keterbatasan jumlah dokter patologi serta tantangan geografis sebagai negara kepulauan.
Dengan AI, hasil pemeriksaan dapat dikirimkan secara digital antar fasilitas kesehatan untuk keperluan konsultasi jarak jauh tanpa perlu mengirimkan sampel fisik, sehingga menghemat waktu dan jarak tempuh.
Kolaborasi Industri Kesehatan dan Teknologi
Dalam praktiknya, AstraZeneca Indonesia menjalin kerja sama dengan Siloam International Hospitals untuk menerapkan sistem berbasis AI dalam mendeteksi kelainan pada organ paru.
Teknologi ini dilengkapi dengan mekanisme penilaian yang sudah tervalidasi untuk membedakan antara nodul dengan risiko rendah dan nodul yang berpotensi menjadi kanker.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari misi besar untuk memperkuat ekosistem layanan kesehatan nasional melalui inovasi digital, dengan fokus utama meningkatkan kecepatan deteksi dini di tengah ancaman lonjakan kasus kanker.
Medical Director AstraZeneca Indonesia, Feddy, berpendapat bahwa beban penyakit yang meningkat menuntut sebuah pendekatan yang lebih terpadu, di mana AI menjadi langkah strategis untuk mempercepat interpretasi klinis berbasis data.
Senada dengan itu, Presiden Direktur Siloam, David Utama, kembali menegaskan bahwa teknologi ini hadir sebagai pendamping yang memperkaya pertimbangan klinis dokter.
Tujuannya adalah membangun model layanan yang standar kualitasnya setara dengan internasional sehingga masyarakat Indonesia tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri.
Harapan Transformasi Layanan Kanker di Indonesia
Menutup rangkaian diskusi tersebut, President Director AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menyampaikan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk nyata dari komitmen terhadap inovasi sains yang memberikan dampak positif langsung bagi para pasien.
Harapan besarnya, kehadiran AI dapat memperkuat sistem skrining, meningkatkan mutu terapi, serta menciptakan transformasi layanan kanker yang lebih berkelanjutan dan efektif bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni