RADARTUBAN - Piala Dunia 2026 menjadi sorotan setelah muncul kekhawatiran soal situasi keamanan di Meksiko menjelang turnamen yang akan digelar bersama Amerika Serikat dan Kanada.
Isu ini mencuat setelah gelombang kekerasan pecah di sejumlah wilayah, terutama di negara bagian Jalisco, menyusul tewasnya gembong narkoba paling dicari di negara tersebut, Nemesio Oseguera Cervantes, yang dikenal dengan julukan El Mencho.
Kematian tokoh yang disebut sebagai pimpinan Jalisco New Generation Cartel (CJNG) itu terjadi dalam operasi keamanan pada Minggu, 22 Februari.
Empat anggota CJNG dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Sejumlah personel militer Meksiko juga mengalami luka-luka.
Baca Juga: Xavi Hernandez Masuk Radar Pelatih Timnas Maroko Jelang Piala Dunia 2026
Gelombang Kekerasan di Kota Tuan Rumah
Situasi memanas setelah kelompok CJNG melakukan aksi balasan terhadap aparat.
Beberapa kendaraan dibakar dan bentrokan dengan aparat keamanan tidak terhindarkan.
Setidaknya 25 anggota Garda Nasional Meksiko dilaporkan tewas dalam baku tembak pada hari yang sama.
Kekerasan ini memicu kekhawatiran menjelang Piala Dunia 2026, terutama karena Guadalajara termasuk kota tuan rumah.
Guadalajara dijadwalkan menggelar empat pertandingan dalam Piala Dunia 2026.
Sementara itu, Mexico City akan menjadi lokasi lima pertandingan.
Monterrey juga telah ditetapkan sebagai tuan rumah untuk empat laga lainnya.
Di tengah situasi tersebut, isu keamanan di Meksiko menjadi perhatian publik internasional.
Selain bentrokan, dilaporkan pula 23 narapidana melarikan diri dari penjara di Puerto Vallarta setelah gerbangnya ditabrak kendaraan oleh pria bersenjata.
Peristiwa ini semakin memperkuat kekhawatiran soal stabilitas keamanan di Meksiko.
Sikap Resmi FIFA
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyatakan bahwa kondisi masih dalam kendali.
Ia mengatakan bahwa “semuanya baik-baik saja”.
FIFA kemudian mengeluarkan pernyataan resmi terkait situasi tersebut.
Seorang juru bicara menyampaikan:
“Di FIFA Meksiko, kami memantau secara ketat situasi di Jalisco dan tetap menjalin komunikasi intensif dengan pihak berwenang.
Kami akan terus mengikuti langkah dan arahan dari berbagai lembaga pemerintah yang bertujuan menjaga keselamatan publik dan memulihkan situasi seperti sediakala, serta menegaskan kembali kerja sama erat kami dengan otoritas federal, negara bagian, dan lokal.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa FIFA masih memprioritaskan koordinasi dengan pemerintah setempat.
Regulasi FIFA Soal Relokasi Pertandingan
Dalam regulasi resmi, FIFA memiliki kewenangan untuk membatalkan, menjadwalkan ulang, atau memindahkan pertandingan.
Hak tersebut berlaku untuk satu laga, beberapa laga, bahkan seluruh turnamen.
Ketentuan itu dapat dijalankan jika terdapat keadaan kahar atau force majeure.
Force majeure mencakup perang, kejahatan besar, atau situasi tak terduga yang menghambat pelaksanaan kewajiban kontraktual.
Dengan dasar tersebut, relokasi pertandingan Piala Dunia 2026 secara hukum memungkinkan dilakukan.
Namun, hingga kini belum ada keputusan terkait pemindahan laga dari Meksiko.
Profesor hukum olahraga dari University of Melbourne, Jack Anderson, sebelumnya menjelaskan bahwa pencabutan status tuan rumah memang kecil kemungkinannya.
Ia menyebut bahwa FIFA memiliki kewenangan luas berdasarkan kontrak.
Namun, kewenangan itu hanya dapat digunakan jika terdapat alasan luar biasa yang benar-benar dapat dibenarkan.
Isu relokasi pertandingan masih sebatas kemungkinan hukum.
Belum ada sinyal resmi bahwa langkah relokasi pertandingan akan diambil dalam waktu dekat.
Fokus utama saat ini tetap pada stabilitas keamanan di Meksiko serta kesiapan infrastruktur menuju Piala Dunia 2026.
Pemerintah Meksiko dan FIFA masih terus berkoordinasi untuk memastikan turnamen berlangsung aman dan sesuai rencana.
Publik sepak bola dunia kini menanti perkembangan situasi dalam beberapa pekan ke depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni