RADARTUBAN – Nama Try Sutrisno tak pernah lahir dari sorotan gaduh. Mantan Panglima ABRI itu tumbuh dari disiplin, perintah, dan kesetiaan panjang dalam barisan militer—sebelum akhirnya dipercaya menduduki jabatan sipil tertinggi kedua di republik ini.
Lahir di Surabaya, 15 November 1935, Try Sutrisno adalah representasi generasi perwira yang dibentuk oleh zaman penuh gejolak. Try Sutrisno bukan politisi panggung, melainkan prajurit lapangan yang perlahan naik melalui jenjang struktural Angkatan Darat.
Menempuh Jalan Panjang di Dunia Militer
Dilansir dari JawaPos.com, langkah awal Try Sutrisno dimulai pada 1956, ketika ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).
Pilihan ini menempatkannya di jalur militer teknis—bidang yang menuntut presisi, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi.
Kariernya mulai mendapatkan ujian penting saat terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962.
Operasi strategis ini bukan hanya momentum militer nasional, tetapi juga menjadi titik awal perkenalan Try Sutrisno dengan Soeharto, figur sentral yang kelak sangat menentukan arah kariernya.
Ajudan Presiden, Pintu Menuju Lingkar Kekuasaan
Pada 1974, Try Sutrisno dipercaya menduduki posisi strategis sebagai ajudan Presiden Soeharto. Jabatan ini bukan sekadar pendamping protokoler, melainkan posisi kepercayaan tinggi—tempat loyalitas, kecermatan, dan kerahasiaan diuji setiap hari.
Dari jarak dekat, Try menyaksikan langsung dinamika kekuasaan Orde Baru. Ia belajar bahwa stabilitas negara bukan hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kontrol, kompromi, dan ketepatan membaca arah politik.
Menjadi Jenderal dan Penjaga Struktur TNI
Karier militernya terus menanjak. Pada Agustus 1985, Try Sutrisno telah berpangkat Letnan Jenderal TNI dan diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), mendampingi KSAD Jenderal TNI Rudini.
Posisi ini menempatkannya sebagai salah satu penjaga utama struktur dan stabilitas internal Angkatan Darat di masa Orde Baru—periode ketika militer memegang peran dominan dalam kehidupan bernegara.
Kariernya terus menanjak hingga akhirnya menjabat KSAD dan menyandang pangkat empat bintang di pundaknya. Setelahnya, Try Sutrisno dipercaya mengemban jabatan Panglima ABRI tahun 1988-1993.
Wakil Presiden dari Kalangan Militer
Puncak perjalanan Try Sutrisno terjadi pada 1993. Ia ditetapkan sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, mendampingi Presiden Soeharto hingga 1998.
Sebagai wapres dari kalangan militer, Try Sutrisno dikenal rendah profil dan jarang tampil kontroversial.
Namun, masa jabatannya berlangsung pada periode paling genting: menjelang runtuhnya Orde Baru, krisis ekonomi Asia, dan perubahan besar lanskap politik nasional.
Warisan Seorang Prajurit Negara
Try Sutrisno bukan figur yang meninggalkan banyak pidato heroik atau manuver politik mencolok.
Warisannya justru terletak pada konsistensi—menjalankan peran sesuai mandat, dari medan operasi hingga istana negara.
Dalam senyap, ia menjadi saksi dan pelaku sejarah. Dari barak militer hingga kursi wakil presiden, perjalanan Try Sutrisno adalah potret generasi prajurit yang percaya bahwa negara harus dijaga, bahkan ketika sorotan tidak pernah menyertainya.
Try Sutrisno mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin pagi (2/3) sekitar pukul 07.00 WIB. Try Sutrisno wafat di usia 91 tahun. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni