RADARTUBAN – Bank Indonesia (BI) memastikan pemantauan ketat terhadap pasar keuangan domestik sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat ke Iran.
BI Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bank sentral siap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ujar Erwin, Senin (2/3).
BI juga menegaskan akan mengoptimalkan bauran kebijakan guna memastikan transmisi suku bunga efektif dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Tekanan Rupiah Masih Berpotensi Berlanjut
Data perdagangan pada Senin (2/3) pukul 09.44 WIB mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.820 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tekanan rupiah berpotensi berlanjut hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Ia menekankan perlunya antisipasi melalui intervensi dan pengawasan moneter.
Dampak ke Sektor Energi
Konflik juga berpotensi memengaruhi harga energi domestik. Founder & CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, memperkirakan harga solar bisa naik Rp 750–Rp 2.000 per liter jika eskalasi mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20–25 persen perdagangan LNG global.
“Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong lonjakan harga energi internasional yang kemudian merembet ke Indonesia,” jelas Setijadi.
Latar Belakang Konflik
Serangan militer AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Informasi ini diumumkan Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (1/3).
Kondisi ini memicu sentimen risk off di pasar global dan menjadi salah satu faktor tekanan terhadap nilai tukar rupiah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni