RADARTUBAN — Di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Timur Tengah buntut perang AS-Israel versus Iran, PT Pertamina (Persero) memastikan dua kapal operasionalnya yang masih berada di kawasan Selat Hormuz dalam kondisi aman dan terkendali.
Pemantauan ketat dilakukan tanpa jeda, dengan prioritas utama keselamatan awak kapal dan keamanan aset strategis negara.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur nadi perdagangan minyak dunia.
Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi berdampak langsung pada pasokan energi global—termasuk Indonesia.
Baca Juga: Selat Hormuz Diblokade, Menteri ESDM Bahlil Beberkan Nasib 25 Persen Pasokan Impor Minyak Indonesia
Empat Kapal, Dua Masuk Zona Kritis
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa total terdapat empat kapal yang terkait operasional perusahaan di kawasan tersebut, namun hanya dua kapal yang berada langsung di dalam Selat Hormuz.
“Saat ini kami terus memantau. Yang pertama kami pastikan adalah keselamatan para awak kapal, lalu keamanan aset kapal. Sampai saat ini kondisinya masih aman,” ujar Baron, dikutip dari JawaPos.com.
Menurutnya, Pertamina juga aktif berkoordinasi lintas institusi, termasuk Kementerian Luar Negeri, serta berbagai pemangku kepentingan internasional yang berperan dalam pengamanan jalur pelayaran.
Pasokan Timur Tengah 19 Persen, Negara Tak Boleh Lengah
Baron menegaskan bahwa keberadaan kapal di Selat Hormuz tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Minyak mentah yang diimpor Indonesia dari kawasan Timur Tengah melalui jalur tersebut menyumbang sekitar 19 persen dari total kebutuhan nasional.
“Distribusi saat ini berjalan melalui sistem reguler, alternatif, maupun emergency. Jadi untuk ketahanan energi nasional, kami sudah menyiapkan seluruh skema yang diperlukan,” jelasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting bahwa negara tidak hanya bergantung pada satu jalur suplai, di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi.
Skema Reguler, Alternatif, hingga Darurat Sudah Aktif
Pertamina memastikan seluruh mekanisme distribusi energi telah diaktifkan, mulai dari pola reguler hingga skenario darurat. Optimalisasi jalur distribusi menjadi kunci agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi tanpa gejolak.
“Strategi ini terus berjalan. Tata kelola tetap kami kedepankan, dan masyarakat tidak perlu khawatir karena sistem reguler, alternatif, dan emergency sudah kami jalankan,” pungkas Baron.
Energi, Geopolitik, dan Ujian Ketahanan Nasional
Situasi Selat Hormuz menjadi pengingat keras bahwa ketahanan energi bukan sekadar soal stok, melainkan juga kesiapan sistem, kecepatan respons, dan diplomasi lintas negara.
Di tengah dunia yang semakin rapuh oleh konflik, stabilitas pasokan energi adalah ujian nyata bagi ketahanan nasional.
Untuk saat ini, Pertamina menegaskan satu hal: kapal aman, awak terlindungi, dan energi nasional tetap terkendali.
Namun mata publik dan pasar tetap tertuju ke Selat Hormuz—jalur sempit yang memikul beban besar perekonomian dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni