RADARTUBAN - Presiden Prabowo Subianto membahas posisi Indonesia sebagai anggota Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) Gaza dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Selasa (3/3) malam.
Pembahasan tersebut dilakukan menyusul serangan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Evaluasi Mandat BoP di Tengah Eskalasi
Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga setengah jam itu menyoroti keberlanjutan mandat dan posisi BoP di tengah dinamika geopolitik terbaru.
Mantan Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda menyampaikan bahwa perkembangan konflik di Iran turut menjadi pertimbangan dalam evaluasi peran forum tersebut.
“BoP kami bahas, tetapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir. Apakah perang yang berkecamuk di Iran ini berpotensi melemahkan posisi dan mandat BoP. Dari situ tentu perlu dihitung ulang,” ujar Hassan Wirajuda saat memberikan keterangan pers di kompleks Istana Kepresidenan RI seusai pertemuan.
Baca Juga: DPR Didesak Perketat Pengawasan atas Keterlibatan Indonesia di BoP dan ISF
Hadir Para Mantan Presiden dan Wapres
Diskusi kebangsaan itu turut dihadiri Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin.
Selain para mantan pemimpin nasional, pertemuan tersebut juga dihadiri ketua umum partai politik yang memiliki kursi di DPR RI, perwakilan kalangan dunia usaha, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta pimpinan lembaga negara.
Sorotan Dampak Global bagi Indonesia
Hassan menjelaskan, Presiden Prabowo dalam forum itu memaparkan eskalasi konflik di kawasan Teluk Timur Tengah serta potensi dampaknya bagi Indonesia.
Presiden juga mengajak para tokoh membahas posisi Indonesia di tengah melemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tantangan penegakan hukum dan tatanan internasional berbasis aturan (rule-based order), terutama ketika pelanggaran dilakukan oleh negara-negara besar.
Menurut Hassan, Presiden menggambarkan situasi global yang kian kompleks dan penuh tantangan, baik dari sisi keamanan maupun perekonomian dunia.
Dampak konflik terhadap pasokan minyak dan gas turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.
Ia menilai pertemuan berlangsung terbuka dan dinamis, dengan dialog dua arah antara Presiden dan para peserta.
“Presiden sangat terbuka dalam menanggapi berbagai pandangan dan usulan yang disampaikan,” kata Hassan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni