RADARTUBAN - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan strategi pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah potensi peningkatan harga minyak akibat konflik geopolitik Iran.
Fokus utama pemerintah adalah optimalisasi penerimaan pajak dan cukai serta kekuatan permintaan domestik yang menopang sekitar 90 persen perekonomian nasional.
Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Purbaya menjelaskan bahwa meski harga minyak dunia saat ini berada di kisaran 80 Dollar per barel dan berpotensi naik hingga 92 Dollar per barel, kondisi APBN masih dapat dikendalikan melalui pengelolaan pajak yang ketat.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah penyesuaian jika tekanan impor energi semakin meningkat.
Baca Juga: Harga Minyak Gila-gilaan! Efek Penutupan Selat Hormuz Akibat Perang Iran vs AS-Israel
Skema Pengadaan Energi Jangka Panjang
Dalam menghadapi potensi lonjakan harga minyak, pemerintah menerapkan skema pengadaan minyak tahunan dengan cadangan yang cukup.
Cadangan tersebut tidak hanya mengandalkan stok darurat sekitar 20 hari, tetapi disiapkan dalam perencanaan jangka lebih panjang agar kebutuhan energi nasional tetap terjamin.
Permintaan Domestik Jadi Penopang Ekonomi
Menkeu menilai tekanan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia relatif terbatas karena hanya sekitar 10 persen dipengaruhi faktor global.
Sebaliknya, sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional digerakkan oleh permintaan domestik.
Selama daya beli masyarakat tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi diprediksi akan stabil meski terjadi gejolak eksternal.
Pengawasan Perbatasan Diperketat
Selain menjaga stabilitas fiskal, Purbaya juga menegaskan pentingnya pengawasan perbatasan untuk mencegah masuknya barang ilegal yang dapat menguasai pasar domestik.
Langkah ini dinilai penting untuk melindungi pelaku usaha dalam negeri sekaligus menjaga penerimaan negara dari sektor pajak.
Pemerintah Pantau Dinamika Global
Pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang berpotensi memengaruhi harga energi.
Di sisi lain, fondasi fiskal dalam negeri tetap menjadi prioritas utama agar stabilitas APBN tetap terjaga meski harga minyak dunia mengalami tekanan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni