RADARTUBAN - Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi memengaruhi arah perdagangan internasional.
Salah satu dampak yang disoroti adalah terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Gangguan Rantai Pasok Global
Menurut Budi, gangguan pada jalur pelayaran tersebut dapat memicu hambatan dalam rantai pasok global sehingga berdampak pada aktivitas ekspor dan impor berbagai negara.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan kekosongan pasokan di sejumlah pasar.
“Ketika rantai pasok terganggu, biasanya muncul celah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Namun, kita harus cermat dengan melakukan survei pasar terlebih dahulu untuk memastikan wilayah mana yang benar-benar terdampak,” ujar Budi saat ditemui di kompleks Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3).
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Memuncak, Ratusan Kapal Tanker Tak Bisa Melintas di Selat Hormuz
Diversifikasi Pasar Ekspor Jadi Strategi
Ia menjelaskan, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah mendorong diversifikasi pasar ekspor ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan akibat gangguan distribusi global.
Kawasan Afrika dan Asia Tenggara disebut sebagai beberapa wilayah yang berpotensi menjadi tujuan alternatif.
Budi menambahkan bahwa pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi kelompok yang didorong untuk melakukan diversifikasi pasar.
Hal ini karena sebagian besar pelaku UMKM masih berada pada tahap awal ekspansi ekspor sehingga relatif lebih fleksibel dalam menjajaki pasar baru dalam jangka pendek.
Pemerintah Siapkan Pertemuan dengan Eksportir
Untuk membahas langkah-langkah tersebut, ia berencana menggelar pertemuan dengan sejumlah perwakilan eksportir nasional, termasuk Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia.
Pertemuan itu bertujuan membahas tantangan yang dihadapi para eksportir, termasuk potensi perluasan pasar di tengah dinamika perdagangan global.
Selain itu, sejumlah eksportir juga menghadapi tantangan karena masih bergantung pada impor bahan baku untuk kegiatan produksi.
Data Perdagangan Indonesia dengan Negara Sekitar Hormuz
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, menyatakan dampak konflik di Iran terhadap perdagangan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah masih perlu dianalisis lebih lanjut.
Sebagai gambaran awal, terdapat tiga mitra dagang Indonesia yang berada di sekitar jalur Selat Hormuz, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Data BPS menunjukkan nilai impor nonmigas Indonesia dari Iran sepanjang 2025 mencapai sekitar 8,4 juta dolar AS, sementara ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut mencapai 249,1 juta dolar AS.
Adapun dengan Oman, nilai impor nonmigas Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 718,8 juta dolar AS, sedangkan ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai 428,8 juta dolar AS.
Sementara itu, perdagangan dengan Uni Emirat Arab mencatat nilai impor Indonesia sekitar 1,4 miliar dolar AS.
Di sisi lain, ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut pada tahun yang sama mencapai 4 miliar dolar AS.
Selat Hormuz Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global serta 20–25 persen perdagangan gas alam cair (Liquefied Natural Gas) melewati jalur ini.
Gangguan aktivitas di Selat Hormuz terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni