RADARTUBAN – Pemerintah Tiongkok resmi menyerukan penghentian segera operasi militer di Timur Tengah menyusul eskalasi konflik akibat serangan bersama Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menghentikan aksi militer tanpa penundaan.
Hal ini dilakukan untuk mencegah perluasan konflik dan melindungi stabilitas kawasan.
Desakan Beijing muncul setelah insiden serangan drone ke wilayah eksklave Nakhchivan, Azerbaijan, yang menimbulkan empat korban luka dan kerusakan infrastruktur publik, termasuk Bandara Internasional Nakhchivan dan sebuah sekolah di desa Shakarabad.
Baca Juga: Presiden AS, Trump Ultimatum: Iran Harus Menyerah Tanpa Syarat untuk Akhiri Perang
Konflik Berskala Besar di Iran
Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari ketujuh. Data resmi pemerintah Iran mencatat hampir 1.000 korban jiwa, termasuk pejabat militer senior dan puluhan siswi sekolah.
Iran membalas serangan dengan gelombang serangan drone dan rudal ke wilayah Israel dan beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Baca Juga: Trump Santai Harga BBM Meroket akibat Ketegangan dengan Iran: Kalau Naik, Ya Naik Saja
Dukungan Beijing terhadap Iran
Mao Ning menegaskan posisi Tiongkok yang menentang serangan militer ke Iran karena dianggap melanggar hukum internasional. Beijing mendukung penuh Iran dalam mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan hak sah negara tersebut.
Tiongkok juga menekankan pentingnya menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang vital, dari potensi gangguan akibat konflik.
Seruan Perdamaian Internasional
Tiongkok menyerukan semua pihak untuk menghentikan operasi militer, menjauhi eskalasi, dan mencegah konflik masif yang dapat melumpuhkan stabilitas kawasan dan ekonomi dunia.
Mao Ning menekankan komunitas internasional harus bersinergi menjaga perdamaian dan ketentraman di Timur Tengah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni