RADARTUBAN - Garuda Indonesia menanggapi tegas penurunan peringkat dari bintang lima menjadi bintang empat oleh lembaga pemeringkat global Skytrax.
Maskapai pelat merah ini optimistis kondisi tersebut bisa menjadi titik balik transformasi total, mulai dari kualitas layanan hingga pemulihan keuangan.
Penurunan Peringkat Dipicu Fasilitas Usang
Skytrax mengungkapkan fasilitas darat yang dinilai sudah usang, seperti lounge di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, menjadi salah satu faktor utama penurunan peringkat.
Fasilitas tersebut dinilai ketinggalan zaman dan membutuhkan modernisasi secara menyeluruh.
Baca Juga: Garuda Indonesia Hentikan Sementara Penerbangan ke Doha Akibat Eskalasi Konflik Iran-Israel
Garuda Siapkan Transformasi Layanan Penumpang
Manajemen Garuda menjanjikan roadmap komprehensif untuk meningkatkan pengalaman penumpang melalui pendekatan “lima indera”, yaitu penglihatan, suara, aroma, rasa, dan sentuhan.
Rencana tersebut mencakup renovasi lounge bandara, peningkatan layanan penanganan darat, pengembangan sistem digital dalam penerbangan, serta penyempurnaan menu makanan dan hiburan selama penerbangan.
Baca Juga: Garuda Indonesia Sampaikan Permohonan Maaf Pasca Insiden Ban Depan Pesawat Copot Saat Mendarat
Suntikan Modal Besar untuk Pemulihan
Transformasi ini juga didukung suntikan modal sebesar Rp 23,67 triliun dari Danantara.
Dari total dana tersebut, sekitar Rp 8,7 triliun akan digunakan untuk perawatan pesawat serta modal kerja operasional.
Sementara sisanya dialokasikan untuk mendukung operasional anak usaha Garuda, yaitu Citilink, termasuk melunasi utang kepada Pertamina.
Meski pemulihan diproyeksikan baru terlihat pada kuartal II 2025, manajemen menilai langkah transformasi ini menjadi kunci utama kebangkitan Garuda Indonesia di industri penerbangan global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni