Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Miskonsepsi Ramadan : Bukan Sekadar Menahan Lapar, Puasa Justru Interaksi Dengan Alquran

Jeny Tri Kurnia Putri • Minggu, 8 Maret 2026 | 06:05 WIB

ilustrasi berbuka puasa
ilustrasi berbuka puasa

RADARTUBAN-Memasuki bulan suci Ramadan, jamak umat Islam fokus pada ritual menahan lapar dan haus.

Namun, sebuah perspektif menarik muncul dalam obrolan hangat antara Pandji Pragiwaksono dan Ustaz Felix Yanwar Siauw. Ternyata, selama ini banyak yang terjebak dalam miskonsepsi bahwa Ramadan hanyalah soal puasa.

Puasa Bukan Esensi Utama Ramadan

Dalam kanal YouTubenya, Pandji mengaku sering merasa puasa yang dijalaninya kosong makna karena hanya sekadar pindah jam makan.

Menanggapi hal itu, Ustaz Felix menjelaskan bahwa dalam Al-Quran, penyebutan Ramadan justru lebih erat kaitannya dengan turunnya kitab suci, bukan ibadah puasa itu sendiri.

“Ramadan di dalam Al-Quran diikatkan tidak dengan puasa, tapi diikatkan dengan Alquran. Puasa itu adalah efek kolateral (efek samping) daripada interaksi kita dengan Qur'an,” terang Ustaz Felix.

Baca Juga: Godaan Puasa di Era Digital: Notifikasi Media Sosial Bisa Ganggu Konsentrasi Ibadah Saat Ramadan

Puasa Sebagai Cara Mengurangi Distraksi

Penjelasan ini memberikan sudut pandang baru. Menurutnya, puasa diciptakan sebagai instrumen untuk meminimalkan distraksi fisik.

Dengan tidak disibukkan oleh urusan perut dan syahwat, seseorang diharapkan bisa lebih fokus tenggelam dalam mengkaji dan memahami ayat-ayat suci.

“Harusnya interaksi kita dengan Al-Quran itu seperti anak kecil yang asyik main sampai lupa makan. Allah mengatur settingnya supaya kita fokus ke Al-Qur'an, urusan makan itu nanti saja,” tambahnya.

Pandji: Penjelasan Paling Masuk Akal

Pandji merasa tercerahkan dengan analogi tersebut. Baginya, selama ini puasa sering dianggap beban karena fokusnya hanya pada menahan lapar.

Padahal, jika ditarik ke esensinya, ketiadaan aktivitas makan adalah cara untuk memberikan waktu lowong yang lebih besar bagi ruhani.

“Ini penjelasan paling masuk akal. Distraksi makan dan emosi dihilangkan supaya kita fokus ngaji. Bukan sekadar biar sehat, karena kalau mau sehat bisa pakai cara lain tanpa harus puasa,” cetus Pandji.

Ramadan Momentum Mengubah Setting Diri

Ustaz Felix mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada kerumitan menyiapkan menu berbuka atau takjil yang justru menyita waktu.

Esensi Ramadan adalah mengubah setting diri agar lebih taat, di mana keberhasilan ibadah di bulan ini diharapkan mampu menjadi bekal untuk sebelas bulan berikutnya.

“Kalau kamu berhasil di bulan ini, ini harusnya cukup untuk sebelas bulan yang lain. Karena di bulan Ramadan, settingnya diubah oleh Allah agar orang paling mudah untuk taat,” pungkasnya.

Puasa Hanyalah Sarana

Obrolan tersebut ditutup dengan sebuah kesadaran penting bahwa puasa hanyalah sarana, sementara tujuan akhirnya adalah kembali pada tuntunan Al-Qur'an.

Harapannya, ketaatan yang terbentuk tidak luntur saat Syawal tiba, melainkan menjadi bekal spiritual yang konsisten untuk sebelas bulan berikutnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pandji pragiwaksono #Ustaz Felix Siauw #puasa #ramadan #kitab suci #menahan lapar #al-quran