RADARTUBAN - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (9/3), mata uang Garuda melemah hingga menyentuh Rp 17.001 per dolar AS, atau turun sekitar 76 poin (0,45 persen).
Tekanan pada kurs rupiah tidak datang sendirian. Pasar saham juga ikut terseret.
Dilansir dari JawaPos.com, indeks utama di Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia tercatat terkoreksi 3,31 persen atau sekitar 250,9 poin, sehingga berada di level 7.334 menjelang penutupan sesi pertama perdagangan.
Kombinasi pelemahan rupiah dan tekanan pasar saham ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama jika tekanan global terus berlanjut.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Pasar Bergejolak
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Situasi politik di Iran disebut menjadi salah satu faktor pemicu ketidakpastian pasar global.
Pergantian kepemimpinan yang melibatkan sosok Mojtaba Khamenei sebagai penerus dari Ali Khamenei dinilai memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan.
Menurut Ibrahim, perubahan kepemimpinan tersebut berpotensi memperkeras sikap politik Iran di tengah konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global, terutama karena ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz.
Harga Minyak Naik, Tekanan APBN Menguat
Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor lain yang memperberat tekanan ekonomi.
Jika harga minyak global terus meningkat, beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi membengkak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pemerintah membuka kemungkinan penyesuaian harga BBM subsidi apabila tekanan fiskal sudah melewati batas kemampuan negara.
“Kalau memang anggarannya nggak kuat sekali, nggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” ujar Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia di Jakarta Pusat.
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil keputusan menaikkan harga BBM.
Harga BBM Subsidi Bisa Jadi Opsi Terakhir
Pemerintah menyebut kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite hanya akan dipertimbangkan jika tekanan terhadap APBN sudah tidak bisa lagi ditahan.
Perhitungan Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa defisit APBN bisa melebar hingga sekitar 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) apabila harga minyak dunia bertahan di kisaran US$ 92 per barel sepanjang tahun tanpa adanya langkah kebijakan tambahan.
Jika skenario tersebut terjadi, pemerintah harus memilih antara memperbesar subsidi energi atau menyesuaikan harga BBM di tingkat konsumen.
Rupiah, Minyak, dan Risiko Ekonomi Berantai
Kondisi saat ini menunjukkan bagaimana tekanan global dapat dengan cepat merembet ke ekonomi domestik.
Ketika rupiah melemah, biaya impor energi meningkat. Pada saat yang sama, harga minyak dunia melonjak akibat konflik geopolitik.
Kombinasi keduanya dapat memicu efek berantai:
- biaya subsidi energi meningkat
- tekanan terhadap APBN melebar
- risiko inflasi domestik naik
- harga BBM berpotensi disesuaikan
Bagi pemerintah, menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat kini menjadi tantangan yang semakin rumit di tengah ketidakpastian global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni