Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tragedi Gunung Sampah Leuwigajah 2005: 157 Orang Tewas Tertimbun, Jadi Asal Usul Hari Peduli Sampah Nasional

M Robit Bilhaq • Selasa, 10 Maret 2026 | 12:05 WIB

 Ilustrasi Gunung Sampah
Ilustrasi Gunung Sampah

RADARTUBAN - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang mengalami sebuah musibah longsor pada hari Minggu, (8/3).

Runtuhnya gunung sampah tersebut menyebabkan seseorang tertimbun material dan menyebabkan 4 orang warga tewas.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan pernyataan bahwa insiden longsornya tumpukan sampah dengan ketinggian mencapai kurang lebih 50 meter tersebut adalah bukti konkret dari kegagalan sistemik dalam manajemen persampahan di wilayah Jakarta.

Peristiwa tersebut dipandang ironis mengingat terjadinya hanya berselang dua pekan setelah pelaksanaan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari.

Baca Juga: Belum Ada Timbangan dan Sistem Lindi, TPA Jatirogo dan Rengel Masih Jauh dari Standar Kelayakan Nasional

Tragedi Leuwigajah Jadi Latar Belakang Hari Peduli Sampah

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional sendiri secara historis ditetapkan untuk mengenang tragedi serupa yang terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005, yang tercatat sebagai salah satu bencana pengelolaan sampah paling kelam.

Sebelum musibah besar tersebut terjadi, TPA Leuwigajah adalah sebuah pusat pembuangan akhir bagi limbah dari seluruh kawasan Bandung Raya.

Semenjak mulai dioperasikan pada dekade 1980-an, akumulasi sampah di lokasi tersebut telah membentuk gunungan yang tingginya mencapai ratusan meter.

Dalam sebuah catatan penelitian karya pakar asal Jepang bernama Itoch Tochija yang bertajuk "Tragedi Leuwigajah", disebutkan bahwa timbunan sampah tersebut meledak secara tiba-tiba pada tanggal 21 Februari 2005.

Akibat dari ledakan tersebut akhirnya memicu fenomena yang disebut sebagai tsunami sampah, yang kemudian meluluhlantakkan dan menimbun hunian penduduk beserta siapa pun yang tengah berada sekitar area tersebut.

157 Korban Tewas, Ratusan Lainnya Hilang

Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan selama 15 hari, petugas evakuasi hanya mampu menemukan sebanyak 157 jenazah korban.

Sementara itu, ratusan individu lainnya dinyatakan hilang dan tidak pernah ditemukan, di mana mayoritas korban adalah para pekerja pemulung serta masyarakat yang bermukim di sekitar zona pembuangan tersebut.

Fenomena tersebut kemudian masuk dalam catatan sejarah sebagai salah satu bencana TPA paling besar di tingkat global, mengikuti insiden serupa di TPA Payatas, Quezon City, Filipina, pada 10 Juli 2000 yang merenggut nyawa lebih dari 200 orang.

Investigasi Ungkap Penyebab Longsor Gunungan Sampah

Dari hasil investigasi lanjutan, diketahui bahwa TPA Leuwigajah yang telah dibangun semenjak era 1980-an tersebut faktanya telah beroperasi melampaui batas kapasitas yang seharusnya.

Analisis dari tim pakar Institut Teknologi Bandung mengidentifikasi bahwa salah satu faktor pemicu utama longsor adalah kondisi material sampah yang tidak mengalami proses pemadatan dengan benar.

Untuk penyebab ketidakstabilan struktur yaitu, penggunaan sistem penimbunan dengan pola lereng tunggal atau single slope yang memiliki tingkat kecuraman sangat ekstrem.

Baca Juga: TPA Tuban Masih Jauh dari Ideal: Dua Lokasi Belum Punya Timbangan, Bupati Tuban Mas Lindra Didesak Ambil Langkah Cepat!

Ditambah lagi, jika merujuk pada pemetaan hidrogeologi setempat, ditemukan terdapat titik mata air yang berada tepat di bawah bagian sisi utara kawasan TPA tersebut.

Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari sebelum kejadian membuat fondasi gunungan sampah semakin rapuh.

Gunung sampah tersebut juga menyimpan gas metana di dalamnya, yang pada akhirnya memicu terjadinya ledakan dahsyat.

Tanda Bahaya Sebenarnya Sudah Terlihat

Hal yang sangat disayangkan adalah beberapa tanda akan adanya bahaya sebenarnya sudah mulai terlihat sebelum bencana itu benar-benar terjadi.

Warga yang berada di sekitar melihat adanya rekahan pada permukaan tanah, terjadinya guguran sampah dalam skala kecil, hingga terciumnya aroma gas yang sangat menyengat sampai ke pemukiman.

Namun, berbagai sinyal peringatan dini tersebut tidak mendapatkan respons atau penanganan yang memadai dari pihak terkait.

Kini Jadi Kawasan Hijau dan Peringatan Nasional

Menyusul tragedi tersebut, pemerintah memutuskan untuk menutup total operasional TPA Leuwigajah dan mulai menggalakkan sistem manajemen sampah yang lebih mengedepankan aspek keamanan.

Saat ini, lokasi bekas pembuangan akhir tersebut telah berubah menjadi kawasan yang lebih hijau dan asri.

Untuk mengenang atas tragedi kelam yang pernah terjadi tersebut tetap terjaga, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional secara permanen.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Longsor #hari peduli sampah nasional #bantar gebang #Tempat Pembuangan Akhir (TPA)