Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cara Belajar Generasi Alpha Berubah, Dari Buku Kini Beralih ke Layar Digital

M. Afiqul Adib • Kamis, 12 Maret 2026 | 15:00 WIB

Cara belajar Generasi Alpha, tantangan sekolah.
Cara belajar Generasi Alpha, tantangan sekolah.

RADARTUBAN - Generasi Alpha, yaitu anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an, tumbuh di tengah perkembangan teknologi paling cepat dalam sejarah.

Cara belajar mereka pun berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dulu buku cetak dan papan tulis menjadi media utama, kini layar digital, aplikasi, dan internet mengambil peran besar dalam proses pendidikan.

Anak Lebih Terbiasa dengan Visual dan Interaksi Digital

Generasi Alpha terbiasa menerima informasi dalam bentuk visual yang interaktif. Video, gambar, animasi, dan permainan edukatif lebih menarik perhatian mereka dibandingkan teks panjang.

Hal ini membuat mereka lebih cepat memahami konsep melalui pengalaman langsung di layar, tetapi juga menantang karena konsentrasi mereka cenderung lebih singkat.

Baca Juga: Main Roblox Kok Dibilang Nggak Produktif? Nih, Kata Jerome Polin Soal Cara Belajar Gen Alpha!

Peran Video, Aplikasi Belajar, dan Internet

Video edukasi di YouTube, aplikasi belajar interaktif, hingga platform daring seperti Google Classroom atau Ruangguru menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

Internet memberi akses luas ke sumber pengetahuan, memungkinkan mereka belajar kapan saja dan di mana saja.

Namun, akses tanpa batas ini juga berisiko jika tidak ada pendampingan, karena anak bisa terpapar informasi yang tidak sesuai dengan usia mereka.

Tantangan bagi Sekolah

Sekolah menghadapi tantangan besar untuk menyesuaikan metode belajar dengan karakter Generasi Alpha. Metode tradisional yang hanya mengandalkan ceramah dan buku teks sering kali kurang efektif.

Guru dituntut untuk kreatif, menggabungkan teknologi dengan pembelajaran langsung agar anak tetap terlibat. Integrasi teknologi dalam kurikulum menjadi keharusan, tetapi tetap harus seimbang dengan interaksi tatap muka yang membangun keterampilan sosial.

Pentingnya Keseimbangan

Meski teknologi membawa banyak manfaat, keseimbangan tetap penting. Anak-anak perlu belajar menggunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber belajar.

Pembelajaran langsung melalui diskusi, kerja kelompok, dan praktik nyata tetap diperlukan untuk membentuk keterampilan sosial, empati, dan kemampuan komunikasi.

Dengan keseimbangan ini, Generasi Alpha bisa tumbuh sebagai generasi yang cerdas secara digital sekaligus matang secara emosional.

Cara belajar Generasi Alpha telah bergeser dari buku ke layar digital. Mereka lebih terbiasa dengan visual, interaksi digital, dan akses internet yang luas.

Sekolah dan pendidik dituntut untuk menyesuaikan metode belajar dengan karakter generasi ini, sambil tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan pembelajaran langsung.

Dengan pendampingan yang tepat, Generasi Alpha bisa memanfaatkan teknologi untuk berkembang, tanpa kehilangan nilai-nilai penting dari interaksi nyata. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#perkembangan teknologi #Generasi Alpha #interaksi digital #belajar