RADARTUBAN - Dua perusahaan energi milik negara di Asia Tenggara sering dibandingkan dalam percakapan publik: Petronas dari Malaysia dan Pertamina dari Indonesia.
Keduanya memegang peran vital dalam menjaga ketahanan energi negara masing-masing.
Namun, arah ekspansi dan strategi bisnis yang diambil selama puluhan tahun membuat keduanya berkembang dengan karakter yang berbeda.
Petronas dikenal sebagai pemain global di sektor energi, sementara Pertamina menjadi tulang punggung distribusi energi terbesar di pasar domestik Indonesia.
Perbandingan ini kembali ramai dibicarakan setelah sebuah infografik yang beredar di akun media sosial Viral Indonesia memaparkan perbedaan skala bisnis keduanya.
Sejarah Berdiri: Pertamina Lebih Tua, Petronas Tumbuh Cepat
Secara historis, Pertamina memiliki usia yang lebih tua dibanding Petronas.
Pertamina berdiri pada 1957 sebagai hasil nasionalisasi industri minyak Indonesia pascakemerdekaan.
Perusahaan ini kemudian menjadi pengelola utama sektor migas nasional.
Sementara itu, Petronas baru didirikan pada 1974 oleh pemerintah Malaysia melalui Petroleum Development Act.
Meski lebih muda hampir dua dekade, Petronas berkembang sangat agresif di pasar internasional, terutama sejak era 1990-an ketika perusahaan tersebut mulai memperluas operasi ke berbagai negara.
Perbandingan Aset dan Skala Bisnis
Dari sisi kekuatan finansial, perbedaan skala terlihat cukup jelas.
Petronas memiliki nilai aset sekitar US$ 157 miliar, sementara Pertamina berada di kisaran US$ 85 miliar.
Pendapatan tahunan keduanya juga menunjukkan selisih. Petronas mencatat pendapatan sekitar US$ 90 miliar per tahun, sedangkan Pertamina sekitar US$ 72 miliar per tahun.
Perbedaan ini sebagian besar dipengaruhi oleh model bisnis masing-masing perusahaan.
Petronas sejak lama fokus memperluas investasi global di sektor hulu dan LNG, sementara Pertamina lebih terkonsentrasi pada pengelolaan energi domestik yang sangat besar.
Baca Juga: AS Cabut Pembatasan, Sekitar 100 Juta Barel Minyak Rusia dalam Transit Terdampak
Produksi Minyak: Petronas Unggul di Hulu
Perbedaan juga terlihat pada volume produksi minyak.
Petronas menghasilkan sekitar 2,4 juta barel minyak per hari, sedangkan Pertamina memproduksi sekitar 800 ribu barel per hari.
Produksi Petronas didorong oleh operasi eksplorasi dan produksi di berbagai negara, termasuk kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika.
Sebaliknya, produksi Pertamina sebagian besar masih bergantung pada ladang minyak dalam negeri yang banyak di antaranya sudah berumur tua.
Ini menjadi tantangan besar bagi industri migas Indonesia yang selama dua dekade terakhir menghadapi tren penurunan produksi.
Strategi Bisnis: Globalisasi vs Dominasi Domestik
Petronas membangun reputasi sebagai perusahaan energi global. Operasinya kini tersebar di lebih dari 30 negara, dengan salah satu kekuatan utama di sektor LNG (Liquefied Natural Gas).
Malaysia bahkan dikenal sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, dengan Petronas sebagai motor utamanya.
Sebaliknya, Pertamina memainkan peran yang berbeda.
Perusahaan ini menjadi tulang punggung distribusi energi nasional dengan jaringan SPBU, kilang, dan sistem logistik energi yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, kebutuhan energi domestik Indonesia memang sangat besar sehingga fokus Pertamina banyak terserap untuk memastikan pasokan dalam negeri tetap stabil.
Tantangan Masa Depan Industri Energi
Baik Petronas maupun Pertamina menghadapi tantangan yang sama: transisi energi global.
Peralihan menuju energi bersih memaksa perusahaan minyak nasional di seluruh dunia melakukan diversifikasi bisnis.
Petronas mulai agresif berinvestasi di sektor energi rendah karbon, termasuk hidrogen dan energi terbarukan.
Pertamina juga bergerak ke arah yang sama melalui pengembangan biofuel, geothermal, hingga energi baru terbarukan.
Namun, tekanan terhadap kedua perusahaan akan semakin besar karena dunia perlahan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Lebih dari Sekadar Perusahaan Energi
Di balik angka produksi dan nilai aset, kedua perusahaan ini memiliki arti strategis bagi negaranya.
Petronas menjadi simbol kekuatan ekonomi Malaysia di sektor energi global.
Sementara Pertamina berperan sebagai penjaga stabilitas energi Indonesia—tugas yang tidak hanya bersifat bisnis, tetapi juga menyangkut kepentingan nasional.
Karena itulah, perbandingan antara Petronas dan Pertamina bukan sekadar soal siapa yang lebih besar.
Lebih dari itu, keduanya mencerminkan pilihan strategi ekonomi dan energi yang berbeda antara Malaysia dan Indonesia dalam menghadapi masa depan industri energi dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni