Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bahlil Lahadalia dan Ryosei Akazawa Sepakati Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir Indonesia–Jepang

Siti Rohmah • Senin, 16 Maret 2026 | 07:35 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI)

RADARTUBAN - Pemerintah Indonesia dan Jepang menyepakati kerja sama di sektor mineral kritis serta energi nuklir melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC).

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di sela Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Minggu.

Dorong Integrasi dan Keberlanjutan Energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sistem energi yang lebih terintegrasi sekaligus mendukung keberlanjutan sektor energi di masa depan.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia terbuka untuk memperluas kolaborasi dalam pengelolaan mineral kritis, mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya yang besar di sektor tersebut.

Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia serta sumber daya lain seperti bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang yang berperan penting dalam industri energi dan teknologi.

“Kami sangat terbuka dan mengundang pemerintah Jepang serta para pelaku usaha Jepang untuk bekerja sama dalam pengelolaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia,” ujar Bahlil.

Jepang Tekankan Pentingnya Kolaborasi Energi

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) Ryosei Akazawa menilai kolaborasi antarnegara menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global, khususnya dalam menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan pasokan.

Ia menyebut Jepang telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan di masa mendatang.

“Di tengah krisis global saat ini, penguatan kerja sama menjadi penting untuk menjaga ketahanan energi. Jepang juga telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipatif,” kata Akazawa.

Dukungan Jepang untuk Proyek Energi di Indonesia

Ia juga menegaskan komitmen Jepang untuk terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia, termasuk penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka yang merupakan bagian dari kemitraan strategis kedua negara.

Fokus pada Rantai Pasok dan Energi Rendah Karbon

Kementerian ESDM menjelaskan bahwa kerja sama di sektor mineral kritis akan difokuskan pada penguatan rantai pasok global agar lebih aman dan andal.

Sementara itu, kerja sama di bidang energi nuklir diarahkan pada pengembangan teknologi energi rendah karbon dengan standar keselamatan yang tinggi.

Ke depan, kedua negara juga akan melanjutkan pembahasan terkait penguatan ketahanan energi di kawasan, termasuk kerja sama pada rantai pasok liquefied natural gas (LNG) dan batu bara.

Selain itu, percepatan proyek transisi energi juga akan didorong melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), termasuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla serta penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.

Melalui kerja sama ini, Indonesia dan Jepang berharap dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi di kawasan Indo-Pasifik.(*).

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bahlil lahadalia #mineral #kerja sama #jepang #ketahanan energi #esdm #Indonesia #MOC #energi nuklir