RADARTUBAN - Pemerintah Turki dilaporkan mengajukan diri sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran guna membuka kembali jalur dialog terkait program nuklir Teheran.
Namun, hingga saat ini belum terlihat respons konkret dari kedua negara.
Sumber Diplomatik Ungkap Minimnya Perkembangan
Informasi tersebut disampaikan oleh sumber diplomatik Turki yang dikutip RIA Novosti, Selasa.
Sebelumnya, media Middle East Eye juga melaporkan bahwa Ankara mengusulkan gencatan senjata sementara di kawasan Timur Tengah sebagai langkah awal menuju perundingan yang lebih luas.
“Turki telah menawarkan peran sebagai mediator bagi Amerika Serikat dan Iran, tetapi sejauh ini belum ada perkembangan nyata yang mengarah pada dimulainya kembali proses negosiasi,” ujar sumber tersebut.
Baca Juga: Fokus Perang Timur Tengah! Presiden Donald Trump Tunda Pertemuan Krusial dengan Xi Jinping
Konflik Memanas Sejak Serangan Akhir Februari
Situasi kawasan memburuk sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur serta korban di kalangan warga sipil.
Iran Lakukan Serangan Balasan
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut operasi militer itu sebagai langkah pencegahan terhadap potensi ancaman dari program nuklir Iran.
Namun, kemudian kedua negara menyatakan tujuan yang lebih luas, termasuk mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Picu Duka Nasional
Dalam eskalasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia pada hari pertama operasi militer.
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni