Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Potret Pilu Agustinus Nitbani: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Bertaruh Nyawa di Bak Truk, Dibayar Tak Sampai Seharga Paket Data

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Selasa, 31 Maret 2026 | 07:04 WIB
Agustinus Nitbani guru honorer NTT. (Jawapos.com)
Agustinus Nitbani guru honorer NTT. (Jawapos.com)

RADARTUBAN – Di tengah hiruk-pikuk narasi Indonesia Emas 2045, potret buram dunia pendidikan masih terpampang nyata di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Agustinus Nitbani, seorang guru honorer di SD Negeri Batu Esa, yang belakangan viral bukan karena prestasi mentereng, melainkan karena nominal slip gajinya yang menyayat hati: Rp 223.000 per bulan.

​Angka tersebut bahkan lebih rendah dari biaya langganan paket data bulanan kebanyakan orang kota.

Mirisnya lagi, nominal itu merupakan hasil pemangkasan dari gaji sebelumnya yang sebesar Rp 600.000, dengan dalih kebijakan efisiensi.

Baca Juga: Insentif Guru Honorer Resmi Naik Jadi Rp 400 Ribu dan Cair Bulanan, Istana Ungkap Skema Baru

Numpang Truk demi Tiba di Kelas

​Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyapa langit Kupang Barat, Agustinus sudah berdiri tegak di tepi jalan.

Bukan menunggu bus jemputan atau ojek daring, pria ini menanti truk material yang kebetulan melintas. 

Baginya, bak terbuka truk adalah satu-satunya transportasi "mewah" untuk membawanya ke sekolah tepat waktu.

​"Setiap pagi saya tunggu truk lewat agar bisa menumpang sampai ke sekolah. Harus datang lebih dulu sebelum murid-murid duduk di bangku kelas," ujarnya dengan nada tenang namun sarat keteguhan.

​Debu jalanan dan angin kencang menjadi saksi bisu perjuangan Agustinus.

Tanpa kendaraan pribadi dan akses transportasi umum yang memadai, ia harus bertaruh keselamatan di atas bak truk demi menunaikan tugas sucinya mendidik anak bangsa.

Gaji Rapel dan Nyambi Mencangkul

​Penderitaan Agustinus tidak berhenti pada nominal yang minim. Gaji yang tak seberapa itu pun seringkali harus menunggu hingga enam bulan lamanya untuk dicairkan secara rapel.

Padahal, ia memiliki tanggung jawab besar menghidupi seorang istri dan dua orang anak.

​Untuk menyiasati dapur agar tetap mengepul, Agustinus harus menanggalkan seragam gurunya di sore hari.

Ia beralih menjadi petani, mencangkul tanah dan merawat tanaman di ladang.

​"Berkebun karena untuk kebutuhan hidup ini, gaji tidak mencukupi," akunya lirih. Meski kondisinya memprihatinkan, tak ada amarah yang meledak dari mulutnya. "Kita sudah mengabdi, walaupun gaji begitu kita menerima," imbuhnya.

Panggilan Hati di Tengah Efisiensi

​Kisah Agustinus hanyalah puncak gunung es dari masalah kesejahteraan guru di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Di tempat lain, masih ada sosok seperti Pak Wesley yang dikabarkan hanya menerima upah Rp 100.000 per bulan.

Kebijakan efisiensi yang memangkas hak-hak dasar para pendidik ini menjadi ironi besar di tengah tuntutan kualitas pendidikan yang tinggi.

​Kutipan relevan yang menohok dari fenomena ini adalah: "Kemuliaan seorang guru tidak ditentukan oleh angka di amplopnya, tapi oleh langkah yang ia tempuh setiap pagi."

​Perjuangan Agustinus Nitbani menjadi pengingat keras bagi pemangku kebijakan.

Bahwa di balik layar gawai dan konten viral, ada nyawa yang dipertaruhkan dan perut yang harus diganjal demi memastikan literasi anak-anak di ujung negeri tidak mati suri.

Sudah saatnya "Upah Layak untuk Guru" bukan sekadar tagar, melainkan aksi nyata yang mendesak untuk diwujudkan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#agustinus nitbani #kebijakan anggaran #ntt #guru honorer