RADARTUBAN – Saat ini beberapa armada kapal mulai terlihat mengarungi Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah mendesak yang diambil oleh industri pelayaran dan otoritas global untuk menjamin kelancaran distribusi logistik penting.
Aksi tersebut dilakukan di tengah situasi keamanan yang sempat melumpuhkan jalur pelayaran selat Hormuz akibat konflik bersenjata di Iran yang mulai berkobar pada penghujung Februari.
Kapal peti kemas yang dioperasikan oleh perusahaan asal Prancis, CMA CGM, terlihat sudah bergerak meninggalkan wilayah Teluk.
Berdasarkan data yang dihimpun dari analis pelacakan maritim, kapal yang melintas tersebut diidentifikasi sebagai sarana transportasi milik korporasi Barat pertama yang dapat menembus blokade sejak eskalasi militer meningkat di kawasan tersebut.
Baca Juga: Iran Beri Izin Khusus Kapal Jepang Lintasi Selat Hormuz di Tengah Konflik, Kok Bisa?
Pada tanggal 28 Maret, kapal yang beroperasi dengan identitas Malta tersebut diketahui mengaktifkan perangkat transpondernya di sekitar wilayah perairan Dubai sebelum melanjutkan perjalanan membawa muatan melewati selat.
Kapal tersebut menempuh jalur dengan mengitari Pulau Larak di area pesisir Iran, sebuah rute yang belakangan ini menjadi pilihan utama bagi kapal-kapal yang ingin melakukan perlintasan.
Di samping itu, tiga kapal tanker yang memiliki keterkaitan dengan pihak Oman juga dilaporkan berhasil melintasi jalur tersebut tanpa harus mengambil rute bagian utara.
Salah satu dari armada tersebut adalah kapal pengangkut gas alam cair yang kepemilikannya melibatkan perusahaan asal Jepang, Mitsui OSK Lines.
Kapal tanker bernama Sohar LNG yang terdaftar di bawah bendera Panama tersebut dikabarkan telah menuntaskan pelayarannya dengan sukses.
Terkait rincian mengenai jadwal pasti perlintasan maupun detail mengenai kemungkinan adanya kesepakatan khusus yang memungkinkan kapal tersebut diberikan izin lewat, pihak pengelola dari Jepang sendiri enggan memberikan penjelasan.
Yvette Cooper selaku Menteri Luar Negeri Inggris, baru-baru ini menekankan pentingnya langkah kolektif dari berbagai negara untuk mendesak pihak Iran agar memberikan akses penuh kembali di wilayah selat Hormuz.
Pernyataan tersebut diberikan setelah adanya koordinasi daring yang melibatkan puluhan negara, di mana Inggris secara tegas menentang pungutan biaya besar bagi kapal yang ingin melintas, yang sering disebut sebagai sistem pembayaran tol oleh pihak Teheran.
Di sisi lain, saat ini Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB sedang mengkaji kemungkinan untuk membentuk jalur khusus bagi bantuan kemanusiaan untuk memastikan distribusi pupuk tidak terhenti.
Langkah yang PBB rencanakan tersebut dinilai krusial untuk memitigasi risiko krisis pangan yang mengancam negara-negara berpendapatan rendah akibat gangguan rantai pasok global.
Dalam keadaan stabil, Selat Hormuz berperan sangat vital karena menjadi jalur utama bagi sekitar dua puluh persen kebutuhan energi dunia, baik minyak maupun gas.
Dengan terhentinya operasional di jalur tersebut, mengakibatkan lonjakan harga komoditas energi serta memicu kekhawatiran global, mengingat besarnya porsi perdagangan bahan baku pertanian yang bergantung pada akses selat ini.
Para pejabat dari berbagai negara berencana untuk mengadakan pertemuan pada pekan mendatang untuk merumuskan strategi penanganan ranjau di laut serta mekanisme evakuasi bagi kapal-kapal yang masih tertahan di lokasi tersebut.
Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat, sempat memberikan pernyataan bahwa pihaknya memiliki kemampuan untuk memulihkan akses di selat tersebut dalam waktu yang relatif singkat.
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump sangat yakin bahwa dengan sedikit tambahan waktu, Amerika Serikat dapat membuat kondisi di sana kembali normal sekaligus mengambil keuntungan dari potensi sumber daya minyak yang ada demi kepentingan dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni