RADARTUBAN - Sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal tak membuat Marten patah arang. Alih-alih meratap, pemuda lulusan Sarjana Teknik Informatika (TI) ini justru memilih banting setir.
Ia melepaskan ijazah menterengnya sejenak untuk turun ke ladang dan menjadi petani jagung di Desa Kuta, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur.
Manfaatkan Lahan Tidur
Sudah tiga tahun terakhir, Marten menekuni dunia pertanian di atas lahan seluas kurang lebih satu hektar.
Baginya, tanah Sumba yang luas menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan kemauan kuat. Jagung yang ia tanam tidak hanya dijual untuk konsumsi, tetapi juga diolah menjadi pakan ternak.
Baca Juga: Petani Eropa Tanam Bunga di Sawah, Cara Alami Mengusir Hama Tanpa Pestisida
“Yang membuat saya tertarik dengan menanam jagung ini, jagung itu punya potensi di Sumba Timur ini. Lahannya sangat banyak sekali, bahkan tanah pemda pun banyak yang kosong. Itu peluang buat kita anak muda,” ujar Marten dengan nada optimistis.
Jadi Sumber Ekonomi Keluarga
Langkah Marten menjadi oase di tengah tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi.
Hasil panen jagung tersebut kini menjadi sumber penghidupan utama, bahkan mampu menjadi modal untuk mengembangkan usaha lain di bidang peternakan.
Setiap musim panen tiba, keluarga pun turut bahu-membahu membantu di ladang. Hasil yang didapat tidak hanya lari untuk kebutuhan dapur, tapi juga menjadi tabungan masa depan.
Butuh Dukungan Pemerintah
Ia pun berharap pemerintah memberikan atensi lebih kepada pemuda di desa yang memiliki niat terjun ke dunia pertanian.
“Harapan ke depan terhadap pemerintah itu lebih perhatian kepada anak muda yang punya potensi di desa-desa, yang memiliki bakat untuk bertani dan punya niat yang tinggi,” tambah lulusan teknik informatika itu.
Berdasarkan data, lahan potensial jagung di wilayah tersebut mencapai 15 ribu hektar, namun pemanfaatannya masih di bawah 50 persen.
Apa yang dilakukan Marten membuktikan bahwa kembali ke tanah bisa menjadi jalan keluar sekaligus harapan baru bagi generasi muda di tengah himpitan ekonomi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni