RADARTUBAN - Beban pengeluaran dapur masyarakat tampaknya bakal makin berat. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku plastik mulai berdampak domino ke berbagai sektor.
Salah satu yang paling terasa adalah melonjaknya harga minyak goreng, baik jenis kemasan maupun curah, yang merangkak naik dalam dua pekan terakhir.
Kenaikan Signifikan, Tembus Rp 45 Ribu per Dua Liter
Pantauan di Pasar Rawasari, Jakarta Pusat, kenaikan harga minyak goreng kemasan tergolong cukup tinggi. Untuk ukuran 2 liter yang sebelumnya dibanderol di kisaran Rp. 36.000 hingga Rp. 38.000, kini melambung hingga menyentuh angka Rp. 42.000 sampai Rp. 45.000.
Baca Juga: Jepang Jual 8,5 Juta Kiloliter Cadangan Minyak Negara untuk Redam Dampak Krisis Energi Global
“Kenaikannya cukup tinggi, bahkan mencapai Rp. 7.000 per 2 liternya,” ujar Prisilia Claudia dalam laporan lapangan yang dikutip dari kanal YouTube Liputan6.
Tak hanya minyak kemasan bermerek, minyak goreng curah pun ikut terdampak. Harga yang semula Rp. 20.000 per kilogram (kg), kini sudah bertengger di angka Rp. 24.000 per kg.
Lonjakan ini dipicu oleh meroketnya harga plastik pengemas yang naik hingga 70%, sehingga produsen terpaksa menaikkan harga untuk menutupi biaya produksi.
Minyakita Langka, Pedagang Siasati Kantong Kresek
Di tengah ramainya kenaikan harga ini, keberadaan minyak goreng subsidi pemerintah, Minyakita, justru semakin sulit ditemukan di pasaran.
Kelangkaan ini dilaporkan sudah terjadi sejak pertengahan Ramadan lalu. Padahal, Minyakita menjadi tumpuan warga saat harga minyak goreng kemasan lain mulai tak bersahabat.
Untuk menyiasati mahalnya harga plastik yang mencapai 70%, para pedagang kini mulai melakukan langkah penghematan ekstra. Salah satunya dengan mengurangi pemberian kantong kresek kepada pembeli.
“Pedagang kini harus mengurangi dan juga menghemat kantung plastik. Yang biasanya memberikan dua lapis kantung plastik kepada pembeli, saat ini hanya memberi satu kantung plastik saja,” jelas laporan tersebut terkait upaya pedagang menjaga omzet yang kian menipis.
Para pedagang pun berharap konsumen mulai terbiasa membawa kantong belanja sendiri dari rumah guna mengurangi beban operasional yang kian menjepit modal mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni