RADARTUBAN – Gelombang kebersamaan terasa kuat dalam Halal Bihalal Himpunan Keluarga Alumni Al-Muhibbin (HIKAM) wilayah Pantura bersama Pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang berlangsung di RM Aqiilah Kecamatan Deket, Lamongan, Sabtu (11/4) siang.
Bukan sekadar temu kangen, forum ini menjelma ruang konsolidasi nilai, jaringan, sekaligus arah gerak alumni ke depan.
Sejak siang, ratusan peserta dari Tuban, Lamongan, hingga Bojonegoro memadati lokasi dengan wajah-wajah penuh rindu.
Kehangatan langsung terasa—obrolan ringan, saling sapa, hingga pelukan antaralumni menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari tradisi Halal Bihalal khas pesantren.
Menjaga Akar, Menguatkan Buah
Ketua Umum HIKAM Pusat, KH. Nur Hadi atau Mbah Bolong, menegaskan pentingnya menjaga keterhubungan spiritual antara alumni dan guru.
Mbah Bolong mengibaratkan alumni sebagai pohon yang hanya akan tumbuh kuat jika akarnya terjaga.
“Akar itu adalah keterhubungan dengan kyai. Kalau hubungan itu terjaga, maka keberkahan akan mengalir,” ujarnya.
Lebih dari sekadar nostalgia, Mbah Bolong juga menekankan karakter utama yang harus dimiliki anggota HIKAM: munadzim, muwahid, mujaddid, dan mujahid.
Empat prinsip ini menjadi fondasi agar alumni tidak hanya eksis, tetapi juga relevan dan berdampak.
Di titik ini, HIKAM tidak hanya tampil sebagai organisasi alumni, tetapi juga sebagai ekosistem kaderisasi nilai—yang berpotensi besar jika dikelola serius dan terstruktur.
Testimoni yang Menggugah: Ilmu Bukan Sekadar Kitab
Suasana semakin hidup saat KH. Yusuf Ali dari Gresik menyampaikan testimoni. Alumni angkatan 1980 itu membuka memori tentang kedekatannya dengan Abah Djamal.
“Ilmu yang manfaat itu bukan perkara kitabnya banyak, tapi bagaimana kita ikhlas ngladeni kyai dan santri,” tuturnya.
KH. Yusuf Ali juga mengungkap bahwa pemahaman sejatinya justru tumbuh setelah kembali ke masyarakat, dengan bimbingan langsung dari sang guru.
Pesan Abah Djamal yang ia pegang teguh hingga kini: mendahulukan kepentingan umat dan menjaga kebermanfaatan ilmu.
“Jangan pernah menyakiti hati guru. Itu pesan yang selalu saya pegang,” tegasnya.
Testimoni ini menjadi refleksi keras—bahwa ukuran keberhasilan alumni bukan pada gelar atau kapasitas intelektual semata, tetapi pada akhlak, adab, dan kebermanfaatan nyata.
Silaturahim sebagai Energi Gerakan
Dalam Mauidzoh Hasanah, KH. Mohamad Idris Djamaluddin menegaskan bahwa Halal Bihalal ini adalah bagian dari menjaga rantai silaturahim yang lebih luas.
“Kegiatan ini untuk menyambung silaturahim dan menjaga hubungan dengan siapa saja yang sambung dengan Abah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengetahui perkembangan alumni sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual pengasuh.
Menariknya, forum ini juga menjadi ruang transformasi. Kisah Baidlowi yang kembali ke Nahdlatul Ulama hingga pengalaman Rubai yang awalnya mengenal Abah Djamal dari radio menunjukkan bahwa dakwah Al-Muhibbin bergerak lintas medium dan latar belakang.
Potensi Besar yang Menunggu Dikelola
Di balik suasana hangat, tersimpan pesan penting: potensi alumni Al-Muhibbin sangat besar, namun belum sepenuhnya terorganisir optimal.
“Alumni Muhibbin itu banyak yang punya kelebihan. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memanfaatkannya untuk kebaikan,” pungkas Mbah Bolong.
Halal Bihalal ini pada akhirnya bukan sekadar agenda tahunan. Pengurus Pusat HIKAM Bidang Penguatan Jejaring Dakwah, Dr. Zainal Muttaqin, S.Kom, M.I.Kom, CPR mengungkapkan, kegiatan halal bihalal ini adalah momentum strategis—mengikat kembali sanad, memperkuat jejaring, sekaligus meneguhkan peran alumni sebagai penjaga nilai dan penggerak perubahan sosial berbasis tradisi pesantren.
Di tengah tantangan zaman, HIKAM Pantura memberi sinyal jelas: kekuatan komunitas berbasis nilai masih relevan—asal dikelola dengan visi dan keberanian bertindak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni