Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dampak Pelecehan Verbal di Grup Chat yang Sering Dianggap Cuma Bercanda

Cicik Nur Latifah • Rabu, 15 April 2026 | 14:26 WIB
Ilustrasi grup chat yang sering menjadi tempat pelecehan verbal. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi grup chat yang sering menjadi tempat pelecehan verbal. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Pelecehan verbal di grup chat masih kerap dianggap sebagai hal sepele dan bagian dari candaan biasa. Padahal, di balik dalih “cuma bercanda”, terdapat dampak serius yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Fenomena ini mendapat sorotan dari peneliti sekaligus dokter komunitas, Ray Wagiu Basrowi, yang menegaskan bahwa bentuk komunikasi yang merendahkan tidak boleh dianggap remeh.

“Banyak orang tidak menyadari bahwa candaan yang bersifat merendahkan, termasuk body shaming atau komentar seksual, adalah bentuk pelecehan verbal. Dampaknya nyata terhadap kesehatan mental,” ujarnya, Rabu (15/4).

Baca Juga: 16 Mahasiswa FH UI Terseret Kasus Pelecehan, Korban Desak Pelaku di-DO

Otak Menganggap Candaan sebagai Ancaman

Secara ilmiah, otak manusia tidak sepenuhnya mampu membedakan antara candaan dan ancaman sosial. Ketika seseorang menerima ejekan atau sindiran, tubuh tetap meresponsnya sebagai tekanan.

Respons ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol yang dapat menimbulkan rasa cemas, tidak nyaman, hingga malu berkepanjangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas emosional seseorang.

“Secara biologis, otak memproses ejekan sebagai social threat. Jadi walaupun dikemas lucu, tubuh tetap merasakan stres,” jelas Ray.

Dampak Nyata pada Kesehatan Mental

Pelecehan verbal yang terjadi berulang di grup chat dapat memicu berbagai gangguan psikologis, di antaranya:

Overthinking setelah membaca percakapan

Rasa cemas atau takut membuka grup

Penurunan kepercayaan diri

Perasaan tidak aman dalam lingkungan sosial

Kelelahan emosional atau burnout sosial

Tidak sedikit korban memilih diam dan ikut tertawa agar tidak dianggap berlebihan, padahal hal ini justru memperburuk tekanan mental yang dirasakan.

Budaya ‘Bercanda’ yang Jadi Pembenaran

Budaya bercanda tanpa batas dalam grup sering kali menjadi alasan pembenaran atas perilaku tersebut. Tekanan sosial untuk tidak dianggap “baper” membuat banyak orang enggan menegur atau membela diri.

Akibatnya, pelecehan verbal terus berulang dan menjadi hal yang dianggap normal. eberapa tanda seseorang mulai terdampak antara lain:

Merasa cemas setiap notifikasi muncul

Membaca ulang pesan berkali-kali

Merasa tersindir tanpa kejelasan

Menghindari interaksi dalam grup

Reaksi ini merupakan respons psikologis yang valid, bukan bentuk kelemahan.

Risiko Jangka Panjang

Jika dibiarkan, pelecehan verbal dapat menimbulkan dampak lebih serius, seperti:

Munculnya masalah kepercayaan (trust issue)

Menarik diri dari lingkungan sosial

Kesulitan membangun relasi sehat

Risiko depresi ringan hingga sedang

Cara Melindungi Diri

Untuk menjaga kesehatan mental, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Mute atau arsipkan grup chat

Tidak merespons semua percakapan

Berani menyampaikan batasan

Keluar dari grup yang toxic

Mencari lingkungan pendukung yang sehat

“Menjaga batasan diri bukan berarti egois. Justru itu bagian dari upaya melindungi kesehatan mental,” tutup Ray. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Pelecehan verbal #grup chat #gangguan mental #stres #candaan