RADARTUBAN – Pelecehan verbal di grup chat masih kerap dianggap sebagai hal sepele dan bagian dari candaan biasa. Padahal, di balik dalih “cuma bercanda”, terdapat dampak serius yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Fenomena ini mendapat sorotan dari peneliti sekaligus dokter komunitas, Ray Wagiu Basrowi, yang menegaskan bahwa bentuk komunikasi yang merendahkan tidak boleh dianggap remeh.
“Banyak orang tidak menyadari bahwa candaan yang bersifat merendahkan, termasuk body shaming atau komentar seksual, adalah bentuk pelecehan verbal. Dampaknya nyata terhadap kesehatan mental,” ujarnya, Rabu (15/4).
Baca Juga: 16 Mahasiswa FH UI Terseret Kasus Pelecehan, Korban Desak Pelaku di-DO
Otak Menganggap Candaan sebagai Ancaman
Secara ilmiah, otak manusia tidak sepenuhnya mampu membedakan antara candaan dan ancaman sosial. Ketika seseorang menerima ejekan atau sindiran, tubuh tetap meresponsnya sebagai tekanan.
Respons ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol yang dapat menimbulkan rasa cemas, tidak nyaman, hingga malu berkepanjangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas emosional seseorang.
“Secara biologis, otak memproses ejekan sebagai social threat. Jadi walaupun dikemas lucu, tubuh tetap merasakan stres,” jelas Ray.
Dampak Nyata pada Kesehatan Mental
Pelecehan verbal yang terjadi berulang di grup chat dapat memicu berbagai gangguan psikologis, di antaranya:
Overthinking setelah membaca percakapan
Rasa cemas atau takut membuka grup
Penurunan kepercayaan diri
Perasaan tidak aman dalam lingkungan sosial
Kelelahan emosional atau burnout sosial
Tidak sedikit korban memilih diam dan ikut tertawa agar tidak dianggap berlebihan, padahal hal ini justru memperburuk tekanan mental yang dirasakan.
Budaya ‘Bercanda’ yang Jadi Pembenaran
Budaya bercanda tanpa batas dalam grup sering kali menjadi alasan pembenaran atas perilaku tersebut. Tekanan sosial untuk tidak dianggap “baper” membuat banyak orang enggan menegur atau membela diri.
Akibatnya, pelecehan verbal terus berulang dan menjadi hal yang dianggap normal. eberapa tanda seseorang mulai terdampak antara lain:
Merasa cemas setiap notifikasi muncul
Membaca ulang pesan berkali-kali
Merasa tersindir tanpa kejelasan
Menghindari interaksi dalam grup
Reaksi ini merupakan respons psikologis yang valid, bukan bentuk kelemahan.
Risiko Jangka Panjang
Jika dibiarkan, pelecehan verbal dapat menimbulkan dampak lebih serius, seperti:
Munculnya masalah kepercayaan (trust issue)
Menarik diri dari lingkungan sosial
Kesulitan membangun relasi sehat
Risiko depresi ringan hingga sedang
Cara Melindungi Diri
Untuk menjaga kesehatan mental, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Mute atau arsipkan grup chat
Tidak merespons semua percakapan
Berani menyampaikan batasan
Keluar dari grup yang toxic
Mencari lingkungan pendukung yang sehat
“Menjaga batasan diri bukan berarti egois. Justru itu bagian dari upaya melindungi kesehatan mental,” tutup Ray. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni