RADARTUBAN – Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB) akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas viralnya penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) yang membawakan lagu “Erika”.
Lagu tersebut menuai kritik publik karena dinilai mengandung unsur pelecehan seksual terhadap perempuan.
Permintaan maaf disampaikan melalui pernyataan resmi yang dimuat di laman kampus pada Rabu (15/4). Dalam pernyataan itu, HMT ITB mengakui bahwa video yang beredar telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Baca Juga: Pelecehan Seksual FH UI Terjadi Sejak 2025, Korban Takut Lapor karena Pelaku Punya Jabatan
“Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami memahami sensitivitas isu ini dan menyampaikan empati, khususnya kepada perempuan,” tulis pernyataan tersebut.
OSD sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa di bawah naungan HMT ITB yang telah berdiri sejak 1970-an. Sementara lagu “Erika” yang dibawakan diketahui berasal dari era 1980-an.
Meski demikian, pihak himpunan mengakui adanya kelalaian karena tetap menampilkan lagu tersebut tanpa mempertimbangkan perkembangan norma sosial dan nilai kesusilaan yang berlaku saat ini.
HMT ITB juga menegaskan bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai yang seharusnya dijunjung di lingkungan akademik maupun organisasi kemahasiswaan.
Sebagai tindak lanjut, mereka menyatakan tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu maupun kelompok.
Koordinasi juga telah dilakukan untuk menurunkan seluruh konten video dan audio terkait dari kanal resmi, termasuk materi lama yang sempat beredar sejak 2020.
Selain itu, HMT ITB memastikan akan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap kegiatan organisasi.
Langkah ini mencakup pengawasan terhadap materi lagu serta peninjauan ulang standar dan pedoman kegiatan agar lebih selaras dengan nilai etika di lingkungan kampus dan masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang ekspresi di lingkungan akademik tetap harus berjalan seiring dengan sensitivitas sosial, terutama dalam isu yang berkaitan dengan penghormatan terhadap perempuan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama